Refleksi Pribadi Kong Zhi Yi (Eugenia Kong) XII-F1/23

Refleksi Ujian Praktik Umum

Kong Zhi Yi (Eugenia Kong) XII-F/23

Ujian praktik umum (UPRAK) drama kolaboratif kelas XII-F1 menjadi salah satu proses pembelajaran yang paling berkesan selama saya berada di Sinlui. Dalam pagelaran berjudul “Gabriel Manek: Light for the Leper”, kita tidak hanya dituntut untuk menampilkan sebuah pertunjukan, tetapi juga belajar tentang tanggung jawab, kerja sama, dan penghayatan nilai kemanusiaan melalui tokoh yang kita angkat.

Sebelum latihan dimulai, kelas kita terlebih dahulu melakukan pembagian tugas agar seluruh proses persiapan berjalan terarah dan terorganisir. Struktur kepanitiaan dibentuk bersama, mulai dari direktur dan wakil direktur yang bertanggung jawab mengatur konsep, jadwal latihan, serta jalannya keseluruhan produksi. Koordinator kelas berperan menjaga kedisiplinan dan komunikasi antaranggota.

Peran sie lainnya juga sangat penting dalam mendukung keseluruhan jalannya drama seperti sie scriptwriter, properti, kostum, dekorasi, MUA, musik, perlengkapan, koreografi, operator, hingga website.

Sie scriptwriter bertanggung jawab atas penyusunan naskah drama, mulai dari perencanaan alur cerita, pembagian adegan, penulisan dialog, hingga memastikan pesan yang ingin disampaikan tetap jelas dan sesuai dengan kisah nyata Gabriel Manek.

Sie make-up artist (MUA) bertanggung jawab merias para pemeran agar sesuai dengan karakter yang diperankan, termasuk menciptakan tampilan penderita kusta, warga, hingga tokoh utama kita, sehingga visual cerita dapat tersampaikan dengan lebih kuat dan meyakinkan.

Sie kostum berperan menyiapkan serta menyesuaikan pakaian setiap pemeran agar selaras dengan latar waktu, suasana, dan karakter dalam drama, sehingga membantu penonton memahami konteks cerita melalui tampilan luar tokoh.

Sie musik memiliki peran besar dalam membangun emosi pertunjukan melalui pengaturan background noise drama, pemilihan serta pengolahan audio voice-over yang diputar pada bagian-bagian tertentu, serta bertanggung jawab atas lagu yang dinyanyikan bersama pada akhir drama sebagai penutup yang bermakna.

Sie koreografi bertanggung jawab menyusun dan melatih gerakan tari yang ditampilkan, memastikan koreografi dapat dibawakan dengan kompak serta mampu memberikan energi dan dinamika pada pertunjukan tanpa mengalihkan fokus dari pesan utama cerita.

Sie properti bertugas atas pembuatan dan perpindahan prop pada saat drama. Sie dekorasi membuat poster, bertanggung jawab atas akun Instagram pagelaran kita, dan juga membantu properti dalam pembuatan prop.

Sie operator memegang peran penting dalam mengatur lighting, pengoperasian OBS untuk background drama, pengaturan suara, serta penggunaan clip on mic, sementara sie website bertanggung jawab mengelola dan memperbarui website kelas sebagai media informasi. Pembagian tugas ini membuat saya menyadari bahwa sebuah pagelaran tidak mungkin berhasil tanpa kerja kolektif dari banyak peran yang saling melengkapi.

    

Dalam UPRAK ini, saya tergabung dalam sie scriptwriter sekaligus berperan sebagai narator . Proses penulisan naskah sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum latihan intensif, yaitu sejak bulan Oktober hingga Desember. Para scriptwriter sering berkumpul secara langsung di kafe maupun berdiskusi melalui panggilan Discord untuk menyusun alur cerita. Sebelum menulis naskah, kita terlebih dahulu mencari dan mengumpulkan informasi mengenai Gabriel Manek. Salah satu sumber utama kita adalah Suster Karina dari PRR, kongregasi yang didirikan oleh Gabriel Manek. Dari proses ini, kita berusaha memastikan bahwa naskah yang kita tulis tetap setia pada peristiwa nyata yang benar-benar terjadi, meskipun banyak informasi yang pada awalnya tidak lengkap dan sulit dirangkai menjadi satu alur yang utuh. Akhirnya, naskah pertama kita selesai dan setelah membagi peran masing-masing anggota kelas, kita menghafalkan dialog dan latihan bersama.

Proses penyusunan naskah tidak berjalan mudah. Kita beberapa kali harus merevisi dan merombak bagian-bagian tertentu karena alur yang terasa kurang kuat atau kurang menarik. Tantangan terbesar muncul ketika latihan di depan guru, di mana drama kita dinilai terlalu datar dan membosankan. Dari masukan tersebut, para scriptwriter mendapat saran dari Maam Vian untuk menambahkan hook di awal cerita agar penonton lebih tertarik dan langsung terlibat secara emosional. Kita pun bekerja keras untuk memperbaiki naskah dalam waktu yang terbatas. Revisi dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak terlalu mengubah dialog yang sudah dihafalkan para pemeran, sehingga mereka tidak terbebani untuk mengulang dari awal. Melalui latihan mandiri, latihan di studio, hingga latihan di depan guru, akhirnya naskah dapat disempurnakan dan diselesaikan tepat waktu.

Sebagai narator, saya menghadapi pengalaman baru yang awalnya terasa cukup menantang. Pada awalnya, saya berharap dapat memerankan salah satu tokoh di atas panggung. Namun, ketika dipercaya menjadi narator, saya menerima peran tersebut meskipun sempat merasa kecewa. Saya menyadari bahwa peran narator memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga alur cerita agar tetap jelas dan mudah dipahami oleh penonton. Saya harus melatih intonasi, artikulasi, serta penghayatan agar suasana cerita dapat tersampaikan dengan baik. Meskipun tidak tampil secara visual dan tidak terlibat dalam tarian, saya tetap ikut bernyanyi dengan pemerah-pemeran lain pada bagian akhir drama. Dari peran ini, saya belajar bahwa setiap peran, sekecil apa pun, memiliki nilai dan kontribusi yang penting bagi keberhasilan sebuah pertunjukan.

Tindakan Gabriel Manek yang menurut saya paling mengesankan adalah pada bagian hidupnya ketika Gabriel Manek membangun rumah sakit bagi penderita kusta. Pada masa itu, orang-orang kusta sering dipandang rendah, dijauhi, dan dianggap sebagai kutukan. Hal tersebut sangat tidak adil, karena mereka tetaplah manusia yang memiliki martabat yang sama. Gabriel Manek tidak berhenti pada rasa kasihan, tetapi mewujudkan kepeduliannya melalui tindakan nyata yang berdampak besar. Dari kisah hidupnya, saya belajar bahwa kepedulian sejati menuntut keberanian untuk bertindak dan memperjuangkan sesama, terutama mereka yang terpinggirkan.

Selama menjalani seluruh proses UPRAK ini, saya merasakan perkembangan dua keutamaan Vinsensian yang paling menonjol, yaitu kerendahan hati dan kelembutan hati. Kerendahan hati saya pelajari ketika harus menerima berbagai masukan dan kritik dari guru maupun teman. Proses revisi yang berulang kali mengajarkan saya bahwa saya tidak selalu benar dan selalu ada ruang untuk memperbaiki diri demi hasil yang lebih baik. Sementara itu, kelembutan hati saya wujudkan melalui sikap saling mendukung dan membantu teman-teman yang kelelahan selama proses persiapan. Dengan sikap saling peduli, seluruh proses yang berat terasa lebih ringan dan menyenangkan.

Pada akhirnya, UPRAK drama “Gabriel Manek: Light for the Leper” bukan hanya tentang sebuah penampilan di atas panggung, tetapi tentang proses panjang yang membentuk saya secara pribadi. Saya belajar menghargai setiap peran, memahami pentingnya kerja sama, serta menghayati nilai kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama. Pengalaman ini menjadi kenangan berharga yang memperkaya keterampilan saya dan membentuk sikap dan cara pandang saya dalam menjalani kehidupan ke depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *