Cerita Tim
Segala sesuatu dan setiap orang memiliki kisahnya sendiri, bahkan yang paling biasa pun memiliki kisahnya sendiri untuk diceritakan. Beberapa mungkin lebih menarik daripada yang lain, tetapi bagaimanapun juga, kisah mereka tetaplah kisah mereka sendiri. Dengan mempelajari kisah mereka, kita belajar untuk lebih menghargai mereka. Baik itu manusia, makhluk lain, maupun benda. Misalnya, makanan memiliki banyak kisah, mulai dari resep asli hingga adaptasi. Kita makan setiap hari, namun terkadang lupa menikmati setiap gigitannya. Jadi, dalam artikel ini, kelompok kami akan menceritakan sejarah dua makanan. Hidangan klasik Tiongkok bernama cū chǎo miàn (粗炒面) dan jajanan kaki lima sederhana bernama Jiānbing (煎饼).
Main Dish
Mie Shanghai (cū chǎo miàn) (粗炒面)
Mi Shanghai awalnya merupakan jajanan kaki lima di Shanghai, berevolusi dari hidangan sederhana yang mengenyangkan berupa mi gandum tebal dan kenyal. Hidangan ini mencerminkan tradisi kuliner Shanghai, yang memadukan bahan-bahan lokal dengan pengaruh perdagangan dan migrasi, terutama sejak tahun 1950-an ketika banyak warga Shanghai pindah ke Hong Kong, mengadaptasi hidangan ini dengan bahan-bahan seperti daging babi, jamur, dan wortel. Saat ini, “mi Shanghai” sering kali merujuk pada versi tumisnya, tetapi kota ini masih memiliki beragam hidangan mie, termasuk varian mi yang lebih tebal dan kenyal seperti Shànghǎi cū chǎo miàn (mie goreng tebal Shanghai) dan hidangan yang lebih sederhana seperti mi minyak daun bawang.
Perkembangan sejarah:
Asal-usul: Mi Shanghai berkembang di kota Shanghai, Tiongkok, sebagai jajanan kaki lima yang populer. Asal-usulnya berakar pada sejarah kuliner kota yang kaya dan lokasi strategisnya sebagai pelabuhan dagang.
Bentuk awal: Hidangan aslinya kemungkinan besar menggunakan mi gandum tebal dan saus gurih, sehingga menghasilkan hidangan yang mengenyangkan dan menenangkan.
Adaptasi dan migrasi: Pada tahun 1950-an, banyak orang Shanghai bermigrasi ke Hong Kong dan membuka restoran. Mereka mengadaptasi hidangan mie tradisional mereka agar sesuai dengan selera lokal dengan menambahkan bahan-bahan seperti daging babi, jamur shiitake, wortel, dan kubis.
Versi modern: Adaptasi ini menghasilkan “Mie Goreng Tebal Shanghai” yang populer, yang kini dikenal oleh sebagian besar orang di seluruh dunia.
Variasi regional: Di Shanghai modern, terdapat beragam hidangan mie. Penting untuk mengklarifikasi jenis hidangan mie yang diinginkan saat memesan, karena “mi Shanghai” dapat merujuk pada olahan yang berbeda, seperti mie goreng yang lebih tebal dan kenyal atau hidangan yang lebih sederhana seperti mi minyak daun bawang.

Side Dish/Snack
Jiānbing (煎饼)
Jianbing berasal dari Tiongkok Utara sekitar 2.000 tahun yang lalu pada periode Tiga Kerajaan (220–280 M). Sebuah legenda populer mengaitkan penemuannya dengan Kanselir Zhuge Liang, yang konon memerintahkan para prajuritnya untuk memasak panekuk tipis di atas perisai mereka setelah wajan mereka hilang. Hidangan dadakan ini, yang terbuat dari adonan air dan tepung terigu, meningkatkan moral dan membantu para prajurit memenangkan pertempuran, yang menyebabkan penyebaran dan evolusi hidangan ini selama berabad-abad menjadi jajanan kaki lima yang populer seperti sekarang ini.
Asal: Hidangan ini konon berasal dari Provinsi Shandong, yang kaya akan biji-bijian dan gandum.
Legenda: Selama kampanye militer, tentara Kanselir Zhuge Liang kehilangan wajan dan panci masak mereka.
Untuk memberi makan pasukannya yang lapar, ia memerintahkan mereka untuk mencampur air dengan tepung terigu untuk membuat adonan.
Para prajurit mengoleskan adonan ini pada perisai mereka, menempatkan perisai di atas api untuk dimasak.
Panekuk tipis yang dihasilkan merupakan dorongan moral bagi tentara.
Evolusi: Setelah pertempuran, hidangan ini, yang disebut jianbing guozi atau “jianbing guozi”, menjadi makanan populer di wilayah tersebut dan secara bertahap menyebar ke seluruh Tiongkok.
Zaman Modern: Saat ini, jianbing adalah makanan jalanan yang dicintai, dengan variasi isian yang tak terhitung jumlahnya, meskipun sejarahnya tetap berakar pada legenda Shandong kuno tersebut.








Leave a Reply