Sebelumnya, saya minta maaf jika tidak ada banyak dokumentasi. Karena Handphone saya tidak memiliki sisa storage yang banyak dan saya sendiri tidak terlalu sering mengdokumentasikan hal-hal. Berikutnya saya akan melakukan refleksi saya mulai dari awal hingga hari-H kelas saya tampil.

Saya sangat bersyukur kelas F dapat tampil dengan baik dan semua proses kami berjalan dengan lancar. Yang pada awalnya kami masih belum tau kami akan memerankan tokoh apa sampai kami dapat memilih Gabriel Manek untuk menjadi tokoh kami. Kami juga harus merevisikan seluruh skrip karena menurut beberapa guru kurang menarik. Setelah kritik dan saran dari guru-guru, skrip yang baru akhirnya jadi dan kami menampilkan pagelaran kami dengan menghayati peran kami masing-masing dan dengan penuh semangat. Saya yang pada awalnya tidak memiliki peran yang penting, hanya menjadi tim properti yang fokus kepada properti-properti. Setelah beberapa evaluasi, saya mendapatkan peran untuk menjadi salah satu penari dalam flashmob dan menjadi salah satu cowok yang menggunakan mic clip on saat kami semua nyanyi. Saya bersyukur saya diberi kesempatan untuk melakukan hal-hal tersebut.

Awalnya, saya langsung ditunjuk untuk menjadi anggota dari properti. Karena peran saya dalam pagelaran P5 saat kelas 11 sangat besar dalam hal-hal properti. Sehingga teman-teman saya setuju dengan membuat saya menjadi anggota dari sie properti. Kami sebagai tim properti awalnya masih belum tau kami membutuhkan properti apa saja untuk pagelaran kelas. Sehingga kami awal-awal masih belum mengerjakan apa-apa. Setelah skrip pertama kelas telah selesai, kami sebagai tim properti mulai beraksi dalam properti. Kami berdiskusi dengan direktor dan penulis naskah tentang properti apa saja yang dibutuhkan. Kami juga pada naskah pertama ingin membuat mobil dan kami semua sangat antusias untuk membuatnya. Tetapi setelah kami melakukan latihan bersama guru, skrip kelas kami diganti sehingga ide-ide seperti mobil dihilangkan dan beberapa properti-properti yang kami siapkan tidak jadi digunakan. Setelah kritikan dan saran dari guru, skrip baru telah jadi dan kami langsung berdiskusi lagi dengan para direktor dan penulis naskah untuk semua properti yang dibutuhkan. Awalnya terlihat sangat banyak dan susah. Kita membutuhkan barang-barang yang besar seperti kursi roda, kasur, dan goa. Kami juga membutuhkan barang-barang yang kecil seperti salib, gelas, mesin tik, mitra, dan lain-lain. Kami tim properti sering bertanya ke satu kelas apakah mereka memiliki barang-barang tersebut. Dan untuk barang-barang yang kecil mendapatkan dari teman-teman sekelas juga. Untuk barang-barang yang besar kami meminjam kursi roda dan kasur yang kami gunakan adalah kasur angin. Tetapi untuk goa, kami sie properti dengan tim dekor bekerja sama untuk membuat goa tersebut. Kami mengumpulkan juga barang-barang yang dibutuhkan untuk membuat semua properti seperti lem tembak, isolasi, lakban, dan lain-lain. Kami bekerja keras agar semua properti yang kami butuhkan dapat selesai h-5. Sehingga kami dapat gunakan properti untuk latihan di sekolah dan untuk gladi kotor serta gladi bersih. Saat gladi bersih, kami diberitahu oleh kelas-kelas lain kalau properti dari kelas kami sangat bagus. Semua keluar masuk properti on point dan kelas-kelas memuji kelas kami. Pada saat kami tampil, properti kami kurang bagus karena pada saat gladi bersih, layar masih mencahayakan panggung dan kami masih kurang lebih bisa melihat di mana properti akan kami letakkan. Tetapi pada saat kita tampil, kami tampil dengan pitch black, sehingga kami tidak terlalu bisa melihat di mana kami akan meletakkan properti tersebut dan akhirnya terdapat beberapa properti yang diletakkan di tempat yang salah. Tetapi saya masih sangat senang dengan penampilan properti pada saat kami tampil. Saya juga sangat bersyukur saya dipilih untuk menjadi anggota dari tim properti. Saya dapat mengalami banyak hal yang baru dan seru dengan teman-teman.

Lalu, kami pergi ke studio teman kami untuk latihan dan melakukan pembuatan properti kami seperti bambu, goa, dan lain-lain. Kami latihan di studio tersebut berkali-kali. Yang awalnya kami tidak tahu kami bakal latihan di mana dan akhirnya kami latihan di studio tersebut. Dimana saya menjadi salah satu orang yang membawa mobil dan mobil saya hanya berisi saya diri sendiri dengan properti-properti saja.

Mobil saya kurang lebih dapat dilihat seperti ini dan sangat sering saya membawa properti ke studio dan kembali ke sekolah.

Ini adalah momen pertama kami saat mengembalikan properti di sekolah. Pada saat itu sudah malam juga karena kami mengembalikan properti setelah kami latihan di studio. Properti memang belum terlihat banyak karena memang pertama kali kami pergi ke sekolah untuk mengembalikan properti.

Ini merupakan momen dimana ini adalah terakhir kali kami akan membawa properti dari studio ke sekolah. Kami telah sadar waktu sudah dekat dan akhirnya kami membawa properti ke sekolah terakhir kalinya.

Ini merupakan momen saat kami mengambil foto Gabriel Manek yang sangat besar untuk dibawa oleh peran utama kami sangat kami bernyanyi di akhir. Ini juga merupakan momen pertama saya pergi ke susteran yang juga menjadi sumber utama dari skrip kami tentang Gabriel Manek. Suster yang di foto merupakan suster yang memberi semua informasi yang dibutuhkan untuk skrip kami. Suster tersebut sangat baik dan sungguh ingin Gabriel Manek diketahui di sekolah kami.
Dari video tersebut terdapat cerita yang sangat saya sangat syukuri. Dua hari sebelum penampilan pagelaran kelas, saya diberitahu bahwa semua properti harus keluar dari sekolah. Setelah bertanya kepada beberapa orang yang ingin properti kami, tidak banyak orang ingin propertinya. Tetapi karena berkat Tuhan, teman kami yang memiliki studio berkata bahwa properti sementara boleh diletakkan di studionya. Satu hari sebelum penampilan saya kira saya akan membawa mobil karena ayah saya belum kembali dari Bandung. Keesokan paginya saya diberitahu oleh ibu saya bahwa saya tidak akan membawa mobil untuk hari itu karena ayah saya membutuhkan mobil tersebut setelah ayah saya kembali dari Semarang agar ayah saya dapat pergi ke sekolah untuk melihat pagelaran karya kami. Tetapi, setelah ibu saya bertanya kepada ayah saya kapan ayah saya tiba di Surabaya, ibu saya sadar bahwa ayah saya tidak akan tiba di Surabaya pada waktu yang tepat untuk pergi ke sekolah dan melihat pagelaran. Sehingga ibu saya menelpon dan bertanya ke salah satu supir kantor. Puji Tuhan supir kantor ada yang kosong sehingga bisa mengantar jemput adik-adik saya sehingga ibu saya bisa pergi ke sekolah untuk melihat pagelaran kami. Setelah selesai penampilan pagelaran, beberapa orang tua setelah foto ingin langsung pergi dan ibu saya merupakan salah satunya. Kebetulan ibu saya berteman dengan salah satu ibu dari teman saya dan akhirnya ibu saya pulang dengan temannya. Sehingga saya diberikan mobil untuk membawa properti ke studio teman karena jika saya tidak ada mobil, semua properti tidak akan bisa keluar dari sekolah pada saat itu karena semua teman-teman yang lain telah pulang. Setelah diatur dan ada orang yang secara terpaksa duduk di belakang, semua properti dapat diletakkan di studio teman kami dengan selamat.
Terakhir, saya sungguh bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan yang sudah mengarahkan dan memberikan semua dampingan yang saya dapatkan. Dari guru-guru, orang tua, teman-teman yang semua suport dan memberi kesempatan untuk saya untuk pagelaran tersebut.







Leave a Reply