Refleksi Pribadi Airin Lisandra Widi XII-F/03

Inilah cerita saya yang berperan sebagai koordinator scripwriter dan anggota sie kostum dalam pagelaran karya UPRAK XII-F “Gabriel Manek: Light for The Leper”.

Semuanya dimulai pada bulan Agustus, saat jam pelajaran Bu List, ketika kami mulai membahas mengenai sie uprak. Dalam hati saya sempat berpikir, “kok cepet ya udah ngurusin uprak”. Saya kemudian dipercaya menjadi koordinator scriptwriter. Sempat muncul rasa takut karena saya tahu bahwa scriptwriter adalah sie yang bekerja paling awal dalam proses pembuatan naskah dan memiliki peran penting sejak tahap awal. Sejak saat itu, kami sekelas mulai mencari ide tokoh dan mempertimbangkan beberapa pilihan, seperti Maria Mainetti, R.A. Maria Soelastri, dan Mirabal Sisters.

SEPTEMBER 2025
03/09/25.
Online meet pertama sebagai scriptwriter, kami mencari beberapa ide tokoh dari Indonesia dan luar negeri. Kami juga menulis latar belakang dan inti cerita dari kisah tokoh tersebut.

Pertengahan September, saya dan Tanya sebagai sutradara mengikuti rapat pemilihan tokoh. Pilihan kami sebenarnya cukup banyak, tetapi hampir semuanya bukan dari Indonesia. Saat itu saya sempat ingin mengambil R.A. Maria Soelastri, namun ternyata sudah dipilih oleh kelas lain. Akhirnya, kelas F masih belum memiliki tokoh untuk UPRAK. Setelah berdiskusi bersama sutradara dan scriptwriter dan mempertimbangkan berbagai hal, kami mengajukan dua tokoh yang kami temukan, yaitu Mgr. Gabriel Yohanes Wilhelmus Manek, S.V.D. dan Sherly Tjoandra. Pada akhirnya, tokoh yang terpilih adalah Mgr. Gabriel Yohanes Wilhelmus Manek, S.V.D.

OKTOBER 2025
1/10/25. Offline meet pertama sutradara dan scriptwriter. Saat itu kami merasa cukup bingung karena informasi tentang tokoh yang kami pilih di google sangat terbatas. Akhirnya, kami menemukan Kongregasi PRR yang ada di Surabaya dan memutuskan untuk menghubungi suster PRR untuk meminta kesempatan wawancara agar bisa mendapatkan informasi yang lebih jelas dan mendalam.

2/10/25. Wawancara bersama suster Karina

10/10/25. Penyusunan script drama

18/10/25. Rapat mengenai script drama bersama sustradara. Lewat berbagai rapat yang kami lalui, kami juga bisa bonding dan makan bersama sambil bertukar ide dan pendapat.

NOVEMBER 2025
Di bulan ini saya dan teman-teman scripwriter fokus untuk menyusun alur script draft 1 dan memilih pemeran.

DESEMBER 2025
15/12/25. Latihan pertama bersama sie acara (guru), kami mendapat banyak kritikan dan saran. Sutradara dan scriptwriter dikumpulkan dan diberi saran. Akhirnya kami harus merombak script menjadi lebih menarik agar alurnya tidak seperti documenter. Disinilah saya mulai panik, sedih, dan takut scriptnya tidak akan selesai tepat waktu.

16/12/25. Saya, sutradara, dan scriptwriter kembali rapat untuk bertukar ide dan pendapat agar script bisa menjadi menarik dan tidak monoton. Disini kami cukup stress dan bingung karena harus memilih satu inti cerita untuk dikembangkan.

JANUARI 2026
Naskah drama belum sepenuhnya selesai sehingga kami segera rapat dan menyelesaikannya. Kondisi H-1 bulan ini membuat saya semakin takut nantinya drama kami tidak sesuai ekspektasi karena belum latihan. Bulan ini cukup hectic, disela-sela scriptwriter merapikan naskah, kami juga mulai berlatih tiap scene yang sudah jadi.
Bersama dengan sie kostum, kami mulai membahas kostum yang akan digunakan tiap scene. Kami mulai berpikir mana yang harus disewa, dibuat sendiri, atau dipinjam.

17/01/26. Shooting trailer dan foto poster

Ada 21 orang yang datang pada hari ini, mulai dari sutradara, koordinator, sie kostum, MUA, dekor, dan para aktor. Shooting dimulai di pagi hari, para MUA dan aktor rela datang pagi untuk persiapan. Saya dan Celine sebagai tim kostum juga ikut datang pagi untuk mengurus kostum pemeran yang berperan sebagai orang kusta.

Waktu terus berjalan dan kami terus menerus berlatih menari, menyanyi, runthrough, termasuk sie properti yang terus berlatih keluar masuk properti. Tiap detail kecil kami perhatikan, kami juga saling evaluasi satu sama lain. Tidak ada proses yang berjalan mulus, ditengah-tengah latihan pun ada problem yang mengakibatkan suasana panas. Namun puji Tuhan semuanya bisa terselesaikan dengan baik.

(Januari recap)

FEBRUARI 2026

Hari-H sudah semakin dekat, kami mulai latihan hampir tiap hari. Di titik ini saya menyadari bahwa drama ini adalah drama terakhir yang akan kami persembahkan bersama. Saya tidak pernah menyangka bahwa waktu secepat itu, yang dulunya kami latihan untuk P5, sekarang latihan untuk pagelaran karya di kelas 12. Kami juga mulai berlatih di tiga ruangan besar khususnya bangsal, sesuai dengan jadwal yang ditentukan.
Ketika berlatih di bangsal, saya menyadari bahwa kostum para pemeran sangat banyak dan tidak tertata rapi selama di backstage, sehingga beberapa sepatu tertukar. Akhirnya, kami sie kostum berencana untuk membuat name card yang bertuliskan nama, scene, dan kostum yang digunakan agar memudahkan para pemeran. Kostum tersebut kami packing dan dimasukkan ke dalam plastik.

10/02/26. Hari ini jadwal gladi kotor, kami mulai mempersiapkan semuanya mulai dari properti, kostum, latihan makeup, dllnya. Gladi kotor ini hanya latihan untuk keluar masuk properti dan pemeran. Puji Tuhan semuanya berjalan dengan lancar.

11/02/26. Waktu semakin dekat dan hari ini adalah gladi bersih. Kelas saya mendapatkan giliran pertama. Kami sudah standby dari jam 6 pagi di kelas untuk makeup, hairdo, ganti kostum, dllnya. Setelah semua selesai, kami naik ke bangsal, para pemeran mulai dipakaikan clip on dan pemeran lainnya menunggu di backstage. Selama 20 menit kami berlatih, dan puji Tuhan semuanya berjalan lancar, tidak ada yang bocor, clip on aman, termasuk dengan keluar masuk properti yang tenang dan pergantian kostum yang tepat waktu.

13/02/26. D-DAY!
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, jadwal tampil kami jam 14.00. Kami mulai datang dari pagi untuk persiapan sambil menonton kelas lain yang tampil. Sebelum itu, di pagi hari kami berdoa bersama Bu List. Setelah itu, hal pertama yang kami lakukan adalah makeup dan hairdo lalu ganti kostum. Ini adalah saat-saat terakhir kami sebelum tampil. Kami menghabiskan banyak waktu bersama, minum lo han kuo agar suara tidak serak, menonton tampilan kelas lain, latihan menyanyi dan menari sebagai pemanasan, dan meditasi singkat sebelum tampil. Beberapa jam sebelum tampil, tim kostum masih membenarkan kostum Joseph yang berperan sebagai Bapa Uskup Manek. Saya, Celine, dan beberapa teman lainnya juga melatih pergantian kostum Joseph. Kami melatih berkali-kali agar sesuai dengan waktu narator berbicara nantinya.

Selagi menunggu XII-E selesai, kami mulai naik keatas. Senang, takut, bangga, sedih, jantung berdebar-debar menjadi satu. Kami memasuki bangsal dan langsung ke backstage, saya melihat teman-teman semua berdoa dan saling menyemangati satu sama lain. Akhirnya, kami tampil. Saya menikmati tiap scene yang kami lalui, terutama ketika kami menari diatas panggung. Di akhir scene, kami berkumpul menjadi satu dan menyanyi, ada yang terharu dan menangis. Semuanya selesai dan berjalan dengan lancar. Hasil dari proses kami berbulan-bulan telah kami berikan di hari ini. Kami berfoto bersama orang tua dan guru, perasaan gugup berubah menjadi perasaan haru dan bangga. Kami tutup hari ini dengan berfoto di pocin dan menyaksikan drama kami di kelas dengan wajah berseri dan perasaan bangga.

Perjalanan selama UPRAK ini mengajarkan saya banyak hal. Proses yang panjang ini mengajarkan saya untuk bertanggung jawab, bekerja sama, komunikasi, dan menurunkan ego sendiri. Ujian praktik ini membawa kelas semakin dekat satu sama lain. Saya bersyukur perjalanan ini bisa saya lalui bersama XII-F.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *