“Two are better than one, because they have a good return for their labor: If either of them falls down, one can help the other up. But pity anyone who falls and has no one to help them up.”
Ecclesiastes 4:9-10
Uprak ini menjadi perjalanan yang kami jalani bersama sebagai satu kelas, dengan pembagian peran di setiap divisi. Saya bertanggungjawab sebagai anggota dari sie koreografer bersama Cheryl dan Jovanna, sekaligus memerankan suster dan pembawa pembukaan empat bahasa dalam bahasa Indonesia. Di awal, semuanya terasa mengalir, sampai akhirnya pada bulan Desember kami harus menerima perubahan besar ketika script kami mengalami banyak revisi setelah mendapat berbagai masukan dari guru.
31 Oktober 2025: Script Reading 1

Bisa dibilang ini adalah pertemuan pertama kami saat script reading sepulang sekolah. Semuanya masih kaku dan masih beradaptasi dengan peran yang baru didapat.
8-10 Desember 2025

Dalam tiga hari itu, kami latihan dance dan latihan nyanyi untuk pertama kali. Kami membawakan lagu The Prayer oleh Andrea Bocelli dan Céline Dion.
15 Desember 2025

Kami menampilkan drama kami di depan beberapa guru dan ternyata banyak masukan dari guru-guru yang membuat kita harus mengganti sebagian besar konsep dari dramanya, terutama dancenya. Sejujurnya agak sedih karena choreo yang sudah dibuat oleh sie koreografer ini harus diganti total dan terutama banyak teman-teman sudah berusaha menghafal.
8 Januari 2026: Script Reading 2

Hari itu adalah script reading kedua dengan script yang sudah direvisi. Saya sangat amaze dan grateful dengan teman-teman scriptwriter yang harus menyusun script disaat hari libur dan bisa membagikan ide kreatifnya dalam karya drama ini.
12-14 Januari 2025

(12/01/26) Kami latihan di Bangsal bersama namun kami belum sempat untuk coba run-through. Sejujurnya agak sayang kita nggak coba run-through di bangsal secara bangsal jadi tempat pentasnya dan luas. Namun, di hari itu sie koregrafer membuat dance yang baru. Aku, Cheryl, dan Jovanna juga membagi tugas untuk membuat dance yang baru dengan mencocokkan scene yang akan menjadi tempat kami flashmob.
(13/01/26) Latihan dilanjutkan di Francis room, di mana sie koreografer memperkenalkan koreografi baruu yang sudah dibuat. Kami juga mencoba melakukan run-through sambil bercermin, sehingga dapat latihan blocking dan ekspresi.
(14/01/26) Keesokan harinya, kami berlatih di V-Hall dan hari itu kami full belajar koreografi yang baru. Berkat kerja sama, semangat, dan dukungan dari teman-teman, proses latihan berjalan dengan lancar, sehingga kami dapat saling membantu tanpa membutuhkan waktu yang terlalu lama.
16 Januari 2026: Latihan Pertama @ Cortez Photography

Latihan ini bener-bener seru banget karena pertama kali kita latihan di studio dan kebetulan di deket studio ada Bilka, jadi saat jam istirahat kami jalan kaki ke Bilka untuk beli makanan untuk dimakan di studio. Kami menyempurnakan lagi scene demi scene agar lebih pas dengan script yang baru dibuat.
17 Januari 2026: Shooting Trailer

Hari di mana shooting trailer ini penuh perjuangan juga. Ada yang sudah persiapan sejak jam 5 pagi dan ada yang shooting jam 12 siang. Perjalanan jauh ke lokasi demi lokasi tidak membuat kami menyerah dan berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk trailer yang akan ditampilkan. Panas, lapar, gerah, terik, kami jalani dengan bercanda agar setiap proses dapat terasa lebih menyenangkan dan lebih seru.
27 Januari-3 Februari 2026
(27/01/26) Kami melanjutkan latihan di Vision Studio untuk menyesuaikan diri dengan tata pencahayaan serta area yang lebih luas, sehingga kami dapat berlatih keluar-masuk properti dengan lebih maksimal.
(28/01/26) Keesokan harinya, latihan kembali dilakukan di Bangsal dan kami mulai mengenakan kostum. Pada kesempatan ini, kami juga didampingi oleh Bu List, wali kelas kami. Dengan ruang yang lebih luas, kami dapat melatih blocking panggung dan menyesuaikan posisi saat pementasan.
(03/02/26) Latihan di V-Hall dilakukan saat persiapan sudah memasuki H-10. Tanpa terasa, pagelaran semakin dekat. Setelah latihan, kami sempat berfoto bersama sambil saling merangkul, yang terlihat lucu seperti foto keluarga dan menjadi kenangan tersendiri bagi kami.
4-12 Februari 2026: Novena 9 Hari

Tidak lupa, kami juga melibatkan Tuhan dan Bunda Maria dalam setiap proses yang kami jalani, dengan memohon kelancaran mulai dari persiapan properti, latihan, hingga hari-H pementasan. Kami menyadari bahwa sebesar apa pun usaha yang telah kami lakukan, semuanya tidak akan berjalan dengan baik tanpa penyertaan dan berkat dari Tuhan. Oleh karena itu, kami melaksanakan doa novena selama sembilan hari bersama sebagai satu kelas sebagai bentuk penyerahan diri dan rasa syukur atas setiap kesempatan yang kami terima. Melalui doa-doa tersebut, kami belajar untuk semakin mengandalkan Tuhan, saling menguatkan satu sama lain, serta memohon agar setiap rintangan dan tantangan yang kami hadapi dapat kami lalui dengan penuh tanggung jawab, keteguhan hati, dan kedewasaan.
10 Februari 2026: H-3

11 Februari 2026: H-2

12 Februari 2026: H-1

Dan tibalah H-1, hari di mana latihan terakhir kami akhirnya tiba. Berbagai perasaan bercampur menjadi satu, mulai dari sedih, senang, bahagia, gugup, hingga takut menghadapi hari penampilan. Pada pagi hari, kami menonton pementasan kelas lain dan menyempatkan diri untuk kembali berlatih di kelas. Setelah pulang lebih awal, kami melanjutkan latihan di Ivy Studio.
“Guys, ayo run-through terakhir,” kalimat yang diucapkan sutradara kelas kami yang menjadi tanda dimulainya latihan terakhir sebelum hari-H.
Kami menjalani latihan dengan sungguh-sungguh, lalu duduk melingkar untuk saling menguatkan. Setelah itu, kami berdoa bersama sebagai bentuk penyerahan diri dan rasa syukur kepada Tuhan telah diberi kesehatan dan waktu untuk latihan. Suasana menjadi haru ketika beberapa dari kami ada yang menangis dan ternyata menular, meski begitu ada juga yang usil dan bercanda.
13 Februari 2026:
Gabriel Manek: Light For The Leper


Bulan demi bulan, minggu demi minggu, hingga hari demi hari telah kami lalui bersama selama proses persiapan uprak. Setiap latihan, tawa, lelah, dan rasa jenuh perlahan membentuk kami menjadi komunitas kelas yang saling peduli. Kini, tibalah saatnya kami berdiri di atas panggung untuk berakting, bernyanyi, dan menari, mempersembahkan hasil dari seluruh usaha yang telah kami lakukan. Rasa gugup pun tak terhindarkan. Deg-degan, takut salah, takut lupa dialog atau gerakan, takut clip on bocor, semuanya tiba-tiba muncul saat di backstage. Saat spotlight menyorot ke mataku, rasanya mau pingsan dan nggak percaya kalau kita semua sudah berdiri di atas panggung dan ditonton oleh guru-guru penguji. Kini waktunya tampil yang serius, bukan untuk yang direvisi lagi. Apapun yang terjadi, the show must go on.

Kalau harus menggambarkan suasana kelas kita lewat sebuah lagu, mungkin Count on Me by Bruno Mars yang paling cocok. Karena selama proses ini, kita bener-bener belajar saling mengandalkan, saling menguatkan, dan tetep ada satu sama lain, even on our hardest days. Capek sekolah tapi pulang sekolah harus latihan uprak dan kalau telat di denda, kita udah pernah di posisi itu.
Someday, kita bakal sibuk ngejar mimpi kita masing-masing, mungkin ngga akan sering ketemu kayak dulu lagi, jarak sebrang meja bakal jadi ribuan kilometer. Sejauh mana kita mengejar masa depan kita, semoga kita masih keep in touch, keep praying for each other, and keep being proud of how far we’ve come!
Thank you F1 for being part of my story. Thank you for making this journey unforgettable. I’m really grateful to be surrounded by such supportive, kind, and amazing friends. Thank you for being there in every situation, for cheering me up when I was tired, and for never letting me feel alone in this process.








Leave a Reply