Refleksi Pribadi Aurelia Natasha XII-F1/06

Pada Ujian Praktik kali ini, kelasku menampilkan drama berjudul Gabriel Manek: Light for the Leper yang mengisahkan perjalanan hidup Gabriel Manek sebagai gembala yang setia melayani, khususnya bagi para penderita kusta. Drama ini tidak hanya menuntut kemampuan akting, tetapi juga kerja sama yang baik di balik layar. Dalam ujian praktik ini, aku tergabung dalam sie kostum, sie properti, dan juga berperan sebagai Suster Anfrida.

Script kelas kami awalnya mengalami perubahan. Setelah libur natal dan tahun baru akhirnya script baru kelas kami sudah jadi. Dari situ kami mulai memikirkan banyak sekali hal-hal yang diperlukan, kami jadi lebih sering latihan, dan menetapkan jadwal latian tiap minggu. Untungnya ada teman kami yang memiliki studio yang dapat kami gunakan untuk latihan dan terkadang kami juga menyewa studio di marvel untuk latihan.

Pertama, sebagai anggota sie kostum, tugasku adalah memastikan setiap pemain mengenakan pakaian yang sesuai dengan karakter dan latar waktu cerita. Kami harus menyesuaikan kostum uskup, imam, suster, dan masyarakat pada masa itu agar terlihat sederhana namun tetap mencerminkan suasana zaman pelayanan Uskup Gabriel Manek. Kesulitan yang kami alami adalah keterbatasan bahan dan perlengkapan. Tidak semua kostum tersedia, sehingga kami harus mencari pinjaman dan memodifikasi pakaian yang ada agar tampak sesuai. Selain itu, kami juga harus mengatur waktu agar semua pemain sudah mengenakan kostum sebelum tampil. Untuk mengatasi hal tersebut, kami membuat daftar kebutuhan kostum sejak awal, membagi tugas dengan jelas, serta saling mengingatkan jadwal gladi bersih. Kami juga berinisiatif menambahkan detail sederhana seperti salib atau kerudung agar kostum terlihat lebih meyakinkan. Dari pengalaman di sie kostum, aku belajar bahwa ketelitian dan kerja sama sangat penting agar penampilan di atas panggung terlihat maksimal.

Kedua, dalam sie properti tanggung jawab kami adalah menyiapkan dan mengatur semua perlengkapan yang digunakan selama pementasan. Properti seperti meja, kursi, Alkitab, salib, dan perlengkapan adegan lainnya harus tersedia dan ditempatkan dengan tepat. Tidak hanya itu, kami juga memiliki kebingungan dan kesulitan karena kami merasa properti kelas kami sangat minim sekali. Lalu setelah akhirnya berganti script dan script final sudah jadi kami mulai mencoba memikirkan kira-kira scene ini membutuhkan properti apa ya. Pada akhirnya kami membuat sebuah gua yang lumayan besar ukurannya. Kami mengerjakannya setiap sore saat pulang sekolah di cortez studio dan mengerjakannya ketika latihan. Tantangan terbesar adalah memastikan keluar masuknya properti dan selalu siap saat dibutuhkan dalam setiap adegan. Karena pergantian adegan berlangsung cepat, kami harus sigap memindahkan dan menata ulang barang tanpa mengganggu jalannya drama. Untuk mengatasi kesulitan tersebut, kami membuat susunan daftar properti sesuai urutan adegan dan melakukan pengecekan ulang sebelum pementasan dimulai. Kami juga melatih kekompakan agar saat pergantian adegan, semua berjalan lancar. Dari pengalaman ini, aku belajar arti tanggung jawab dan kesiapan, karena kesalahan kecil dalam properti bisa memengaruhi keseluruhan penampilan.

Terakhir, sebagai aktor yang memerankan Suster Anfrida, aku menghadapi tantangan yang berbeda. Aku harus menghafal dialog, memahami karakter, dan menjiwai peran sebagai seorang suster yang setia melayani bersama Uskup Gabriel Manek. Awalnya aku merasa gugup dan kurang percaya diri, terutama saat harus berbicara di depan banyak orang. Aku juga harus bisa membagi waktu antara latihan peran dan tugas di balik panggung. Untuk mengatasi rasa gugup tersebut, aku berlatih lebih sering, mencoba memahami nilai pengabdian dan kasih yang ditunjukkan dalam cerita, serta meminta saran dari teman-teman dan guru. Aku belajar mengatur waktu dengan lebih disiplin agar semua tanggung jawab dapat dijalankan dengan baik. Saat hari pementasan tiba, aku berusaha tampil dengan tenang dan percaya diri.

Melalui seluruh proses ini, aku menyadari bahwa sebuah pementasan drama bukan hanya tentang tampil di atas panggung, tetapi juga tentang kerja keras dan kerja sama di balik layar. Dari sie kostum, aku belajar ketelitian, dari sie properti, aku belajar kesiapan dan tanggung jawab, dan sebagai aktor, aku belajar percaya diri serta mendalami peran. Ujian praktik ini menjadi pengalaman berharga yang mengajarkanku arti pelayanan dan kebersamaan, sesuai dengan teladan hidup Uskup Gabriel Manek yang kami angkat dalam drama tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *