

Ujian praktik kelas 12F “Light for the Leper” ini bukan cuma sekadar tugas akhir atau syarat kelulusan bagi saya. Ini adalah perjalanan yang penuh cerita, emosi, dan perjuangan yang benar-benar membekas di hati. Dari semua hal yang kami lewati di kelas 12, pagelaran ini jadi salah satu momen yang paling membuka mata saya; bahwa kebersamaan kami di 12F ternyata jauh lebih berharga dari yang selama ini saya sadari. Prosesnya memang tidak mulus, penuh perbedaan pendapat, lelah, bahkan sempat bikin hati panas. Tapi justru dari bentrokan-bentrokan itu, saya belajar memahami teman-teman saya lebih dalam, dan pelan-pelan kami tumbuh jadi tim yang lebih solid.
Semua ini dimulai waktu kami disuruh wali kelas dan guru-guru untuk memilih satu tokoh yang akan dijadikan drama pagelaran UPRAK kelulusan. Dari awal, saya sudah semangat sekali. Rasanya seperti, “Ini loh momen & performance terakhir kita sebagai kelas 12, harus bikin yang memorable.” Saya dan beberapa teman langsung melakukan research. Kami mencari tokoh-tokoh Katolik perempuan seperti Santa Lusia, Suster Maria Laura Mainetti, Anna Maria Taigi, bahkan Martha Christina Tiahahu. Kami memilih tokoh perempuan karena kelas kami ceweknya jauh lebih banyak, cowoknya cuma sepuluh orang. Kami pikir realistis juga, cowok pasti bakal banyak membantu angkat properti-properti. Cerita tokoh-tokoh itu juga memiliki alur yang keren banget. Kami sudah terbayang alurnya mulai dari adegan awalnya, konfliknya, klimaksnya. Rasanya sudah yakin sekali.
Tetapi ternyata tahun ini tokoh yang boleh diambil harus tokoh yang berpengaruh di Indonesia. Semua pilihan kami gugur. Dan makin sedih lagi, saat pemilihan, kelas kami mendapatkan giliran terakhir. Satu per satu tokoh sudah diambil kelas lain. Saya interingat sekali rasanya waktu itu saat diberitahu teman saya, perasaannya seperti kosong. Panik. “Loh terus tokoh kami siapa dong?” Akhirnya setelah diskusi dan konsultasi, kami mendapatkan tokoh Gabriel Manek. Awalnya jujur saya tidak terlalu kenal beliau. Tapi dari situ kami mulai belajar bersama. Mulai mencari tahu tentang hidupnya, pelayanannya untuk orang kusta, dan dari situ lahir konsep “Light for the Leper”.
Kesulitan pertama muncul saat naskah jadi dan kami tampil pertama kali di depan guru-guru. Kami pikir sudah lumayan bagus. Tetapi ternyata dibilang terlalu dokumenter. Kurang klimaks. Kurang emosi. Kurang “hidup”. Rasanya seperti ditampar. Saya pulang hari itu dengan kepala penuh pikiran. Di kamar saya mikir, “Gimana kalau nilai kita jelek?” “Gimana kalau kita tidak nutut waktunya?” “Gimana kalau kita tidak bisa memenuhi ekspektasi Bu List dan guru-guru lain?” Itu yang paling membuat saya takut. Karena kelas kami dikenal sebagai kelas vinsensian. Harapannya pun tinggi dari orang-orang sekitar. Akhirnya naskah dirombak total. Scriptwriter kerja keras sekali selama liburan Natal. Sementara kelas lain mungkin sudah mulai menyempurnakan adegan, kami masih memikirkan naskah sebagai landasan penampilan kami. Saya sempat merasa tertinggal sekali. Seperti kami start duluan tetapi malah menjadi paling belakang.
Saya sendiri mengambil peran sebagai MUA untuk para pemeran kusta, sekaligus ikut menari dan bernyanyi. Jadi kesulitan saya bukan hanya satu. Di bagian MUA, kami harus membuat luka 3D menggunakan latex. Awalnya berantakan sekali. Ada yang terlalu tebal, ada yang warnanya tidak natural, ada yang susah dilepas. Kami pernah panik karena latex susah dibersihkan padahal adegan selanjutnya harus cepat ganti. Akhirnya kami cari solusi: menempelkan tisu di latex, warna dibuat dengan mencampur warna-warna, dan kami menyiapkan tisu basah, body paint remover, dan micellar water di backstage agar cepat hapusnya. Kami trial error berkali-kali hingga menemukan cara yang cocok. Kami juga mendapatkan bantuan dari teman-teman sekitar yang sedang tidak bertugas dalam menghapus make upnya.
Latihan di tiga ruang besar juga menjadi tantangan. Adegan pembullyan kusta diulang terus. Teman-teman saya jatuh beneran, lutut lecet, tangan memar. Saya sebagai MUA sekaligus teman merasa campur aduk. Bangga karena mereka total banget, tetapi juga kasihan. Sempat ada momen saya mikir, “Ini efektif tidak sih? Kok diulang-ulang terus?” Tapi di sisi lain, saya juga sadar kalau adegan itu memang salah satu adegan paling penting di drama kami. Itu bukan cuma soal jatuh atau dorong-dorongan, tetapi tentang menyampaikan rasa sakit, penolakan, dan bagaimana rasanya dikucilkan. Kalau setengah-setengah, penonton pasti tidak akan merasakan apa-apa. Waktu itu saya melihat teman-teman benar-benar all out. Mereka tidak pura-pura jatuh, tetapi benar-benar menjatuhkan diri. Saya ingat ada yang bangun sambil meringis karena lututnya perih, tetapi tidak ada satu pun yang mengeluh.
Waktu latihan di studio teman kami, kesulitannya beda lagi. Jadwal latihan dari pagi sampai sore, tetapi sering molor. Banyak yang telat. Break lama banget. Ujung-ujungnya lelah tapi tidak maksimal. Saya sempat kesal dalam hati. Rasanya ingin ngomong, “Mending 3 jam tapi serius sekalian.” Tapi saya juga sadar, semua lagi capek. Akhirnya kami bikin evaluasi. Saat aturan denda 5k per menit mulai diberlakukan dan izin dibatasi, suasana langsung berubah. Semua jadi lebih disiplin. Runthrough jadi rutin. Dari situ saya sadar terkadang kita butuh ditegaskan dulu baru sadar tanggung jawab. Tanggal 17 Januari, kami rekaman trailer dan foto poster di Kedung Cowek. Rumah saya di barat, lokasi trailer di timur banget. Saya harus bangun subuh. Di perjalanan saya mikir, “Kenapa sih serumit ini?” Tetapi saat melihat teman-teman juga berjuang, memakai kostum panas-panasan, makeup luntur terkena keringat, saya merasa, “Tidak apa-apa, saya tidak boleh mengeluh, ini perjuangan kita bersama.”
Menjelang hari-H, saya mendapatkan peran tambahan menjadi perawat. Jujur saya tidak terlalu percaya diri. Saya merasa akting saya biasa aja. Saya takut kaku. Tetapi teman-teman bilang, “Kamu bisa.” Saya latihan sendiri di rumah, ngomong di depan kaca, ulang-ulang dialog agar lebih natural. Dan ternyata saat dijalanin, saya bisa. Kesulitan lain adalah pergantian kostum super cepat. Setelah nari, saya harus langsung jadi perawat. Kami sempat bingung mau pakai kostum apa agar gampang gantinya. Sempat ada beda pendapat dengan tim kostum. Tapi akhirnya kami menemukan solusi layering kostum, jadi tinggal lepas bagian luar aja. Simple, tetapi efektif.
H-1 latihan terakhir rasanya beda banget. Kami duduk melingkar, saling berpesan, ada juga yang mulai nangis. Saya waktu itu mikir, “Besok ini semua selesai.” Sedih banget. Hari-H pun datang. Beberapa teman sakit tenggorokan termasuk saya. Kami rame-rame membeli lo han kuo di Ai poci. Dua jam sebelum tampil kami runthrough terakhir dan menarikan penampilan kami. Satu jam sebelum tampil kami doa melingkar dan menenangkan diri, “apa pun yang terjadi, bersikaplah seperti biasa, seperti tidak ada yang salah, lanjutkan”. Tiga puluh menit sebelum tampil kami jalan ke bangsal dengan jantung yang gelisah. Tangan saya dingin.
Saat tampil, entah kenapa semua rasa takut hilang. Kami cuma fokus dan have fun terutama di penampilan menari kami. Di ending scene saat bernyanyi bersama, saya menangis. Bukan karena sedih saja, tetapi karena semua perjuangan itu seperti berputar lagi di kepala. Perjuangan teman-teman. Bangun subuh. Revisi naskah. Evaluasi. Lelah. Sakit. Semua terbayar di satu momen itu. Setelah selesai, orang tua datang membawa buket bagi kami semua. Pelukan hangat dan kalimat bangga dari mereka. Kami balik ke kelas, menonton ulang penampilan kami. Ketawa, bangga, ada pula yang masih menangis. Kami pun lanjut bersihkan kelas. Goa dibongkar. Kostum diberesin. Ranjang angin dilipat. Kelas jadi kosong lagi. Tapi hati saya penuh sekali.
Semua kesulitan itu; revisi total, jadwal yang berantakan, konflik kecil, kelelahan, sakit tenggorokan, kurang percaya diri; kami hadapi bersama. Kami tidak lari. Kami mencari solusi. Kami saling mengingatkan. Kami saling mendorong. Pengalaman ini benar-benar engraved di hati saya. Saya belajar tentang tanggung jawab, tentang pengorbanan, tentang bagaimana rasanya mempunyai “found family” yang tidak meninggalkan kamu saat lagi susah. Kalau boleh jujur, saya tidak akan menukar pengalaman ini dengan apa pun. “Light for the Leper” bukan hanya ujian praktik. Ini cerita tentang kami; tentang perjuangan, air mata, dan cinta yang tumbuh di tengah semua kesulitan itu. Dan saya akan selalu bangga pernah jadi bagian dari F1.







Leave a Reply