Bagian hidup dari gabriel manek yang paling menarik bagi saya adalah ketika dia mau membela orang-orang kusta agar tidak terbuang ke tanjung naga. Manek, seorang awam Katolik di Timor, bukanlah seorang pejuang bersenjata, melainkan pahlawan iman yang memilih jalan pasif namun sangat perkasa: menolak untuk menyangkal keyakinannya meski nyawa taruhannya. Dalam proses mendalami karakternya, saya tersentuh oleh kekuatan batinnya. Gabriel Manek tetap berusaha untuk menyelamatkan para orang kusta itu hingga mereka bisa dirawat dengan baik. Ia menunjukkan sikap yang tangguh kepada kita untuk terus jalan dengan kepercayaan yang kita percayai.
Peran saya dalam proyek ini adalah sie kostum. Saya diberikan tugas untuk memakaikan kostum kepada pemeran utama serta membeli beberapa aksesoris yang diperlukan untuk drama ini. dengan peranku sebagai sie kostum mengajarkan saya untuk dapat berkomunikasi lebih lanjut dengan semua anggota. Dari menanyakan apakah kostum ini sudah cukup baik hingga apakah barang ini apakah cocok dan sesuai dengan anggaran yang telah diberikan. Dalam peran ini perlu berpikir bagaimana caranya untuk menghasilkan kostum-kostum yang dapat digunakan namun tetap masuk ke dalam budget yang telah disediakan. Saya belajar untuk berpikir lebih kreatif dalam proses ini karena tanpa kreativitas pekerjaan ini tidak akan selesai.
Mati raga adalah keutamaan vinsensian pertama yang muncul di kepala saya saat memikirkan uprak ini. banyak waktu yang harus dikorbankan demi uprak mulai dari waktu belajar di luar sekolah hingga waktu bersama orang tua yang menjadi sangat berharga. Test untuk masuk ke perguruan tinggi negeri tidak lama lagi namun uprak yang akan ditampilkan tinggal hitung hari. Hal ini membuat saya menjadi lelah dan stress tentang semua kewajiban yang perlu saya lakukan, di tengah situasi ini saya harus tetap teguh dan semangat karena ketika semua dijalankan dengan pasti akan selesai.
Kedua, Kelemahlembutan Hati dalam dinamika tim yang padat dan penuh tekanan, konflik kecil dan kelelahan emosional adalah hal yang wajar. Di sinilah kelemahlembutan hati diuji dan dipraktikkan. Saya belajar untuk memahami kesulitan pemain yang frustasi dengan adegan mereka, bersabar ketika revisi kostum harus dilakukan berkali-kali, dan menjaga tutur kata serta sikap agar tetap mendukung dan membangun, bukan menghakimi. Ketika seorang pemain merasa kostumnya tidak nyaman, saya berusaha mendengarkan dengan sabar dan mencari solusi terbaik. Kelemahlembutan ini bukan kelemahan, melainkan kekuatan yang merajut kerjasama dan menciptakan lingkungan di mana setiap orang merasa dihargai dan didukung.
Secara keseluruhan, ujian praktek ini adalah sebuah laboratorium kehidupan. Saya tidak hanya belajar tentang sejarah dan drama, tetapi lebih tentang keteguhan iman seperti Gabriel Manek, tanggung jawab dalam kolaborasi melalui peran kostum, dan pembentukan karakter melalui keutamaan matiraga serta kelemahlembutan hati. Proses ini mengukir dalam diri saya pemahaman bahwa pembelajaran yang paling berharga seringkali datang dari pengalaman yang menuntut pengorbanan, kerjasama, dan refleksi mendalam tentang nilai-nilai kemanusiaan.







Leave a Reply