Refleksi Pribadi Clarissa Michaella XIIF/13

UPRAK Pagelaran Karya merupakan karya terakhir dalam bentuk drama atau teater dari setiap kelas 12 di Sinlui, di dalam ujian praktik ini bukan hanya kreativitas yang diperlukan tetapi kerjasama dari setiap individu. Perjalanan panjang dan penuh cerita tetapi menghasilkan banyak memori yang akan terus saya kenang. Saya memiliki peran sebagai aktor warga di dalam pangung, serta sie properti dan sie dekorasi di belakang panggung. Inilah sudut pandang saya mengenai perjalanan UPRAK XII-F, Gabriel Manek: Light for the Leper. 

November, naskah sudah selesai, grup properti mulai ramai kembali membahas ide-ide, tidak hanya melalui whatsapp, kami juga ngobrol langsung pada saat disekolah ataupun menyisikan waktu di tengah kesibukan baik ulangan, tugas-tugas kelas 12 ataupun urusan lainnya untuk discordan, koor kami hampir setiap hari chat di grup “guys malem dc jam 8 ya”  dan bersama-sama berpendapat dan berdiskusi. Dari banyaknya hari brainstorming muncullah berbagai macam ide-ide, ide itu kami kumpulkan kedalam satu docs dan kemudian diberikan kepada director/scripwriter apakah disetujui atau tidak dan ya ngenasnya banyak ide kami yang tidak di setujui alasannya karena kurang cocok, terlalu besar, tidak penting atau melanggar aturan yang diberikan oleh guru, jadinya saya dan teman teman harus memikirkan kembali ide yang dapat diterima, beberapa ide yang sudah di acc dimasukkan dalam google sheets yang dibuat oleh koor kami dan mulai mencari referensi gambar serta menentukan apakah kami akan meminjam, membuat ataupun membeli. Selain itu, grup dekorasi juga mulai berdiskusi serta membagi tugas. 10 November 25, kami mulai berdiskusi mengenai poster dan ide-ide mulai ditampung.

December, properti kami sudah mulai dicicil dari membuat properti ataupun membelinya. 3 Desember 25, grup dekorasi mulai ramai berdiskusi dari pembuatan username instagram, instagram feeds dan lainnya. Saya sendiri masuk dalam pembuatan instagram feeds untuk “meet the team” yaitu mengenalkan orang-orang dibalik layar pertunjukkan kami ini, kami berdiskusi panjang mengenai tema seperti apa yang kami inginkan dan personally, dalam proses pembuatan meet the teams saya mengalami kesusahan dari layout, background dan mengedit, tetapi saya berusaha sebisa saya dan juga didukung oleh teman teman, di dalam tim ini saya dan semuanya saling mengsupport satu sama lain. Di tanggal ini pula, kami berdiskusi mengenai warna baju untuk foto yang akan digunakan di ig.

8 Desember 2025

Hari ini ada hari media day, dimana setiap sie akan foto untuk instagram meet the teams, mereka semua menggunakan warna yang sudah ditentukan oleh kami sie dekorasi dan terlihat beberapa sie kompak menggunakan warna yang serasi dengan satu sama lain. Selain media day, hari ini juga digunakan untuk berlatih nari yang sudah dibuat oleh sie choreography, para penari berlatih dengan seksama walaupun mengalami kendala karena banyak dari mereka yang kaku dan tidak pernah menari, tapi mereka semua mau untuk belajar dan menghafalkannya juga sering bertanya “gerakan ini gimana ya”, “udah oke belum gerakannku”.

15 December 2025

   

Hari ini adalah jadwal kami latihan bersama guru di bangsal lazaris serta latihan terakhir kami di tahun 2025, kami datang lebih pagi untuk mempersiapkan semuanya mulai dari property dan kostum. Saya merasa deg-degan di hari itu karena merupakan pertama kalinya kami menampilkan cerita kami di depan para guru, saya memberikan yang terbaik mulai dari acting dan juga keluar masuknya properti. Setelah selesai, kami mendapat evaluasi, saran dari guru membuat skrip nya perlu dirombak total. Saya melihat ekspresi para director dan scripwriter yang agak kaget dan terlihat down, bagaimanapun juga naskah itu merupakan hasil kerja keras mereka, saat itu juga saya cukup sedih karena akan banyak perubahan properti yang terjadi karena pergantian naskah ini, banyak properti yang sudah kami buat dan beli tidak kepakai, selain properti, para aktor yang sudah menghapal line nya pun akan mengalami perubahan terutama main character, choreo yang sudah dibuat juga mengalami perubahan, saya sadar bukan hanya beberapa pihak saja yang merasa sedih dan kecewa, tetapi semua mengalaminya. Di tengah kekecewaan itu, saya dan teman-teman harus bisa mengambil sisi positif dari hal ini, guru memberikan saran agar cerita yang akan kami bawakan lebih baik lagi. Hal itu cukup membuat saya tidak lagi terlarut dalam kekecewaan dan melihat sisi baiknya.

12 – 14 January 2026

      

Latihan kembali setelah liburan dan di tahun yang baru 2026, kembali dengan naskah yang baru dan banyaknya perubahan, kami harus memikirkan ulang properti dan mempelajari naskah dan alur terbaru. Saya sangat bersyukur, semua teman-teman tetap semangat untuk memulai lembaran baru ini kembali walau mungkin ada sedikit kekecewaan tetapi mereka tidak mau berlarut dalam hal itu, tidak ada yang mengeluh dan terus berusaha semaksimal mungkin dari semua sie.

12 Januari 26, kami latihan di bangsal, latihan pertama, bisa dibilang kami tidak run through sama sekali, kami memfokuskan adegan per scene dan baru scene-scene awal saja, scriptnya sendiri masih terdapat revisi kecil kecilan, sie koreo mencari gerakan yang cocok dan lebih baik untuk lagu yang terbaru, sie dekor masih sibuk dengan editing, sie properti memikirkan ide-ide properti yang terbaru, para aktor sibuk mempelajari naskah terbaru dan mendalaminya. Kami semua sibuk dengan perannya masing-masing, banyak kesulitan dari setiap perannya tetapi saya dapat melihat bahwa mereka tidak menyerah begitu saja mereka terus memberikan kontribusi mereka yang terbaik.

13 Januari 26 di Francis Room, kami kembali latihan seperti hari sebelumnya. Masih per adegan, tapi kali ini progresnya sudah sampai scene 5, jadi terasa lebih maju dari kemarin. Di scene 2, saya berperan sebagai warga yang harus mendorong para kusta sampai mereka terjatuh, bahkan ada yang sampai lututnya terluka. Setiap kali adegan selesai, saya selalu merasa bersalah dan langsung meminta maaf, tetapi dia selalu bilang, “gapapa dorong aja biar dapat feel-nya.” Walaupun sudah dibilang begitu, tetap saja ada rasa tidak enak karena adegan itu harus diulang puluhan kali sebelum akhirnya kami bisa pindah ke scene berikutnya. Selain itu, saya juga merasa latihan hari itu kurang efektif. Di Francis Room tidak ada panggung bawah, semuanya rata, padahal saya disuruh untuk mendorong kusta dari atas ke bawah panggung. Jadi rasanya kurang sesuai dengan gambaran sebenarnya. Saya sempat merasa kesal, karena waktu latihan di bangsal sebelumnya saya sudah bilang, “mau coba ta ini kusta dorong ke bawah,” tapi tidak terlalu ditanggapi dan malah dibilang jangan karena terlalu tinggi. Namun keesokan harinya justru diminta untuk mendorong ke bawah saat penampilan nanti. Dalam hati saya berpikir, seharusnya dicoba dari kemarin supaya lebih siap dan tidak terasa kurang efektif seperti ini. Walaupun sempat kesal, saya tidak mau menyimpan rasa itu terlalu lama. Saya mencoba menghilangkan kekesalan tersebut supaya tetap bisa fokus latihan dan menjalani proses ini dengan baik bersama teman-teman.

14 Januari 26, kami hampir sama sekali tidak ada reka adegan di hari itu. Kami memantapkan waktu di V-Hall untuk mempelajari dan mematangkan gerakan tarian. Karena fokusnya memang di tari, suasana latihan juga berbeda dari biasanya yang penuh dialog dan blocking. Saya juga mendapat peran untuk menari. Para penari dibagi menjadi tiga kelompok supaya latihannya bisa lebih cepat selesai, masing-masing dilatih oleh Cheryl, Gita, dan Jovie. Dengan dibagi seperti itu, latihan jadi lebih teratur dan tidak terlalu ramai dalam satu kelompok. Saya cukup cepat untuk menghafal gerakannya, terutama saat pertama kali diajarkan. Hanya saja, terkadang saya lumayan kesulitan di bagian gerakan kaki tertentu, Beberapa bagian perlu diulang beberapa kali sampai benar-benar bisa. Walaupun begitu, saya terus berlatih mengikuti arahan supaya gerakan saya bisa lebih rapi dan sama dengan yang lain.

17 January 2026

17 Januari 26, kami melakukan shooting trailer, ada dua lokasi yang dipakai, satu outdoor dan satu indoor. Outdoor, kami mulai dari pagi supaya tidak kepanasan dan pencahayaannya masih bagus, beberapa teman kumpul terlebih dahulu di rumah saya untuk menitip mobil kemudian kami nge grab bareng untuk ke lokasi pertama. Para aktor dan tim MUA sudah kumpul di satu rumah sejak subuh untuk makeup dan persiapan kostum. Sebenarnya waktu itu kondisi saya lagi kurang enak badan. Beberapa hari sebelumnya saya sudah sakit dan belum benar-benar pulih. Tapi tetap saya paksa datang karena tidak mau ketinggalan dan merasa tetap punya tanggung jawab dalam kegiatan ini. Proses shooting berlangsung dari sekitar jam 7 pagi sampai jam 2 siang. Lumayan melelahkan karena harus pindah lokasi dan menunggu shoot selesai, apalagi dengan kondisi badan yang kurang fit. Tapi di sisi lain saya senang banget bisa diberi kesempatan ikut serta dalam proses pembuatan trailer ini. Walaupun capek, pengalaman ini tetap jadi momen yang berkesan buat saya.

16 January – 7 February 2026

Waktu terasa cepat sekali berjalan. Hampir setiap hari dalam seminggu kami latihan dan menyelesaikan properti, baik di sekolah maupun di Cortez Studio. Latihannya bukan cuma sekadar menghafal, tapi benar-benar detail dan cukup menguras tenaga. Kami latihan menari, menyanyi, sampai memperhatikan setiap scene dengan detail—siapa masuk dari mana, properti dipegang siapa dan dibawa ke mana, timing dialog, ekspresi wajah, intonasi suara, sampai perpindahan posisi di panggung. Hal-hal kecil yang awalnya terlihat sepele ternyata sangat berpengaruh saat semuanya digabungkan. Kami juga latihan bersama bagian background, lighting, narator, dan music supaya semuanya bisa sinkron dan tidak ada yang bentrok. Kadang kami harus mengulang satu bagian berkali-kali karena timing belum pas atau ada yang masih kurang ekspresinya. Prosesnya memang melelahkan, tapi dari situ kami jadi lebih paham alur keseluruhan. Di awal-awal latihan, saya merasa masih belum terlalu efektif. Kadang masih banyak bercanda dan datang juga belum selalu tepat waktu. Tapi semakin dekat hari pelaksanaan, kami jadi lebih serius, lebih fokus, dan lebih menghargai waktu latihan. Walaupun begitu, tawa dan candaan tetap ada supaya suasana tidak terlalu tegang dan tetap nyaman. Kami juga jadi lebih sering melakukan run through dari awal sampai akhir tanpa berhenti, seolah-olah itu sudah hari penampilan yang sebenarnya. Setelah selesai, kami evaluasi bersama, membahas bagian mana yang masih kurang dan apa yang harus diperbaiki. Kalau ada yang kesulitan, dipikirkan bareng-bareng. Kalau panik, paniknya sama-sama. Kalau senang karena ada bagian yang berhasil atau terasa lebih bagus dari sebelumnya, senangnya juga bareng. Setiap kesulitan yang muncul tidak diselesaikan sendiri-sendiri, tapi dicari solusinya bersama. Dari situ terasa sekali kalau kami semakin kompak dan benar-benar belajar bekerja sebagai satu tim.

11 February 2026: GLADI BERSIH

Waktu sudah masuk gladi bersih, feel-nya benar-benar dapet banget, karena semuanya sudah dibuat persis seperti nanti di hari H, suasananya terasa jauh lebih serius dan nyata dibanding latihan sebelumnya. Kami juga jadi kelas pertama yang tampil. Dari sebelum naik panggung, rasa nervous sudah campur jadi satu, karena ditonton juga oleh para guru dan kelas lain. Setelah selesai tampil, rasanya langsung lega.

12 February 2026

H-1, kami melakukan run through terakhir. Semua adegan dijalankan dari awal sampai akhir tanpa berhenti, benar-benar seperti penampilan besok. Di akhir latihan, kami menutup dengan doa bersama lalu duduk melingkar dan berbincang. Suasananya terasa berbeda dari biasanya. Tidak seperti latihan-latihan sebelumnya yang masih banyak bercanda, kali ini lebih tenang. Ada yang mulai terharu, bahkan sampai menangis karena sadar proses yang sudah dilewati bersama hampir selesai, setelah ini tidak ada lagi pulang sekolah lanjut latihan di studio, tidak ada lagi kerja properti dan dekor bareng-bareng. Semua proses yang selama ini rutin dijalani akhirnya sampai di titik terakhir sebelum penampilan.

13 February 2026: D-DAY

Hari-h tiba, hari dimana XII-F akan mempersembahkan penampilan kami, semua usaha dan latihan. Kami memulai hari dengan berdoa bersama Bu list, walikelas kami, agar diberi kelancaran. Beliau juga memberi pesan, ketika sudah di atas sana apapun yang terjadi, jangan pernah berhenti, the show must kept on going, walaupun latihan sudah dilakukan berkali-kali, kemungkinan terjadi kesalahan atau hal tak terduga tetap ada, kami harus tenang dan saling mendukung satu sama lain. Kami mendapat jadwal paling terakhir di sesi itu, jam 2 siang, tetapi kami uda berada di sekolah dari pagi. Kami juga mulai makeup dan siap siap di jam 10, dan duduk melingkar melakukan briefing terakhir di jam 1 siang.

 

Awalnya saya belum merasa deg-degan hingga kelas XII E tampil, kelas mereka selesai tampil dan kami berada di lorong untuk giliran menuju ke atas dan ketika sudah berada di backstage, rasa nervous takut menjadi satu—takut salah, takut ada yang lupa, pokoknya deg-degan banget. Saya sendiri ketika diatas berdoa lagi agar rasa takut dan cemas saya hilang, serta teman-teman lain juga berdoa masing-masing, serta mengulang-ulang adegan mereka—meresapi dan menghayati di belakang, begitu sudah mulai adegan berjalan dan masuk ke bagian masing-masing, semuanya terasa lebih mengalir. Semua melakukan perannya masing masing dengan baik, mulai dari aktor, operator dan di belakang layar.  Saya melihat pada saat scene terakhir hingga nyanyi, banyak yang sudah menangis, antara merinding melihatnya atau sedih karena sudah selesai semua, saya cukup kaget sebenarnya saya tidak menangis di panggung, malah ketawain yang nangis hhehehe, tidak ada kesedihan yang ada dalam pikiran saya ketika pertunjukkan sudah selesai, adanya rasa bangga dan puas terhadap pertunjukkan kami, semua kerja keras yang dilalui terbayar di hari ini. Selesai foto dan tampil, kami turun ke kelas, menurunkan properti dan menonton ulang pertunjukkan kami, selesai bukan lagi waktunya evaluasi tetapi suara tepuk tangan dari kami semua.

Saya sangat bersyukur bisa menjalani semua proses ini bersama XII F1. Dari awal latihan sampai hari penampilan, semuanya terasa seperti perjalanan panjang yang penuh cerita. Perjalanannya memang melelahkan, tapi terasa menyenangkan karena kami melaluinya bersama-sama. Banyak momen kecil yang mungkin terlihat biasa saja, seperti latihan sampai sore atau malem, bercanda di sela-sela istirahat, atau diskusi serius setelah run through, tapi justru itu yang membuat proses ini terasa menyenangkan. Melalui uprak ini saya belajar banyak, bukan cuma soal tampil di atas panggung. Saya merasa lebih dekat dengan teman-teman, lebih mengenal satu sama lain, cara berpikirnya dan kebiasaannya. Dari situ saya belajar untuk lebih memahami dan menghargai perbedaan. Selain itu, saya juga belajar untuk mengontrol emosi. Selama proses pasti ada momen kesal, beda pendapat, atau mendengar hal yang kurang enak. Tapi saya belajar untuk tidak langsung bereaksi berlebihan. Saya mencoba menahan diri supaya suasana tetap kondusif. Kalau memang ada masalah, lebih baik dibicarakan baik-baik daripada dipendam atau dilampiaskan dengan emosi. Saya juga jadi lebih berani menyampaikan pendapat di depan banyak orang, walaupun awalnya sempat ragu.

Saya juga belajar tentang tanggung jawab selama proses uprak ini. Ketika sudah diberi tugas atau peran, seharusnya itu dijalankan dengan sungguh-sungguh karena setiap bagian punya perannya masing-masing dalam satu penampilan. Saya menyadari bahwa tugas dalam menyiapkan properti dan dekorasi bukanlah hal yang mudah karena membutuhkan ketelitian, kekompakan, dan tanggung jawab yang besar. Dalam proses ini, saya merasa kontribusi saya masih belum maksimal, dan hal tersebut menjadi pembelajaran berharga bagi saya untuk ke depannya. Ada beberapa hal yang mungkin bisa saya lakukan lebih maksimal, tetapi belum saya jalankan sepenuhnya. Saya menyadari bahwa tanggung jawab bukan hanya soal hadir atau ikut terlibat, tetapi juga tentang seberapa besar usaha yang kita berikan. Dari pengalaman ini, saya ingin belajar untuk ke depannya bisa lebih aktif, lebih peka terhadap pekerjaan yang perlu dilakukan, dan lebih bertanggung jawab terhadap tugas yang sudah dipercayakan kepada saya. Untuk sie properti dan sie dekorasi, thank you!

   

Pada akhirnya, uprak ini bukan hanya tentang penampilan di atas panggung, tetapi proses panjang yang kami lalui bersama. One thing that kept replaying in my head after the performance was “What would have happened ya if we hadn’t changed our whole story, if we never got those evaluation, and simply stayed with our first script?” “Apakah kami akan puas dengan penampilan terakhir itu?”. The story would not have been the same. Every disagreement, improvment, evaluation, and criticsm quietly pushed us to grow. Through the lowest and highest point, we stayed, fixed what needed to be fixed and kept moving forward together until the very end. Thank you F1!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *