Ketika ujian praktik drama, saya mendapatkan tugas sebagai koordinator sie operator. Selain itu, saya juga diberi tanggung jawab khusus untuk memainkan spotlight dan saya juga membantu sie lighting untuk menentukan warna warna dan kapan munculnya warna dalam sebuah adegan. Pada awalnya, saya merasa bahwa memainkan spotlight merupakan tugas yang mudah karena saya kira akan dibantu oleh petugas saat tampil. Namun, kenyataannya memainkan spotlight jauh lebih sulit dari yang saya bayangkan. Saat latihan ujian praktik di studionya Keiko, saya hanya memainkan lampu di luar yang kami tandai sebagai spotlight. Namun, setelah beberapa kali latihan, saya merasa cara tersebut kurang efektif karena hanya menandakan kapan spotlight menyala dan mati, tetapi tidak membantu saya mengetahui posisi yang tepat untuk mengarahkan spotlight. Mendekati hari-H, saya dipinjamkan senter dari studio Keiko dan menggunakannya sebagai pengganti spotlight. Dari situ, saya mulai memahami ke mana spotlight harus diarahkan. Perlahan-lahan, saya mulai mengerti dan dapat mengoperasikan spotlight dengan lebih baik. Namun, saat gladi bersih, kenyataannya berbeda dari ekspektasi saya. Ternyata saya harus memainkan spotlight sendiri, dan spotlight yang saya pegang sempat tidak stabil karena tangan saya gemetar. Peristiwa tersebut membuat saya sangat down dan takut menghadapi ujian praktik pada hari-H. Oleh karena itu, sebelum hari-H, saya berlatih untuk menstabilkan tangan agar tidak gemetar saat memegang spotlight. Pada hari-H, saya masih merasa takut dan panik. Namun, ada petugas yang membantu saya mengatur spotlight sehingga saya merasa lebih tenang. Dari ujian praktek ini, saya merasa bangga karena dari awal yang saya gemetar menggunakan spotlight, menjadi bisa menggunakan spotlight dengan stabil. Selain itu, saya juga merasa senang karena hasil dari lighting menjadi sangat bagus dan melebihi ekspektasiku.
Refleksi Pribadi Eugene Xiao Sasongko XIIF/15
•












Leave a Reply