Refleksi Pribadi Jesselyne Witama XII-F/19

      

Saat pertama kali menampilkan ujian praktek kelas saya, kelas saya mendapatkan banyak kritikan dari guru-guru yang sudah menonton alur cerita kita. Dari kritikan dan saran yang sudah diberikan, kelas kita merombak atau mengubah alur cerita tersebut sehingga fokus pada satu topik. Jujur saja sebenernya saya berpikir bahwa uprak kelas saya bakalan hancur karena dari awal kita mendapatkan kritik yang membuat alur ceritanya diubah. Tetapi kenyataannya, kelas saya bisa berhasil mengubah alur cerita tersebut sehingga bisa menjadi lebih bagus dan sukses menampilkan uprak kita.

Saya mendapatkan peran sebagai warga yang mengusir dan memaki-maki orang-orang kusta. Awalnya saya tidak percaya diri dengan karakter yang saya bawakan dan dialog yang saya dapatkan adalah Bahasa Jawa di mana saya merasa tidak pasif dengan bahasanya. Tetapi akhirnya, teman saya membantu saya untuk membagi dialog saya sehingga saya dapat dipermudah. Saya juga belajar bagaimana untuk memerankan karakter warga tersebut agar sesuai dengan emosi yang didapatkan. Saya belajar banyak dan menerima masukan-masukan yang diberikan oleh teman-teman saya. Mereka sangat amat banyak membantu saya sehingga saya bisa percaya diri saat memerankan peran warga tersebut. Saat kelas kita latihan di V Hall, tiba-tiba ada guru yang akan melihat latihan kita untuk menilai penampilan uprak tersebut. Jujur saja itu membuat saya sedikit merasa takut karena guru tersebut merekam voice over untuk mengomentari bagian-bagian kita. Tetapi saat itu gurunya mengatakan bahwa raut muka saya sudah sesuai dengan peran yang saya mainkan sehingga hal tersebut membuat saya merasa sedikit lebih tenang.

Selain itu, saya juga berada di sie MUA yang bertugas untuk merias wajah para pemain-pemain tersebut. Hal utama yang saya lakukan adalah merias tokoh yang mendapatkan peran kusta. Saya merias wajah teman saya yang mendapatkan peran kusta yaitu Tea. Awalnya saya kira kalau saya akan merias seperti pada hal yang umumnya dilakukan, tetapi ternyata saya harus merias agar orang tersebut seperti orang kusta. Saya meriasi dari wajah, leher, dari tangan hingga kaki. Saya belajar banyak hal karena ini adalah pertama kalinya bagi saya. Saya belajar bagaimana cara menggunakan latex untuk membuat tekstur pada kulit, belajar bagaimana saya menggambar luka kusta, dan belajar bagaimana cara shading contour di area-area tertentu. Saya belajar dibantu dengan teman-teman saya dan juga dibimbing oleh There, ketua dari sie MUA. Ternyata di sie MUA juga melelahkan, karena biasanya yang datang pagi atau datang duluan adalah sie kita. Walaupun begitu, saya merasa enjoy saat saya melakukannya sehingga saya tidak sadar bahwa waktu cepat berlalu.

Biasanya setiap kita selesai latihan, ada sesi evaluasi yang di mana kita duduk melingkar dan saling memberikan saran satu sama lain. Saat ada sesuatu yang kurang, kita bisa membahasnya secara langsung sehingga komunikasi kita lebih baik agar tidak terjadi miskom. Dari memberikan saran satu sama lain, kita menjadi tahu hal-hal apa yang perlu diperbaiki agar selanjutnya tidak diulangi dan dapat dijadikan pelajaran untuk kedepannya. Setelah itu, kita berdoa novena bersama-sama agar saat hari-h kita bisa menampilkan yang terbaik dan uprak kita dapat berjalan dengan lancar.

Pada saat hari-h, semuanya berjalan dengan lancar dan beban yang selama ini kita pikul rasanya sudah terlepas. Kita semua merasa bangga dengan apa yang kita tampilkan dan kita juga senang karena ada sosok yang selalu mendukung kita yaitu para orang tua kita yang menonton uprak ini. Teman-teman saya ada yang menangis terharu karena uprak kita sudah selesai dan hasilnya memuaskan. Kita juga diberikan kejutan kecil berupa bucket snack dari para orang tua sehingga kita merasa senang dan dihargai dari hasil kerja keras kita. Pada saat itu jujur saja saya merasa campur aduk karena ada banyak perasaan yang muncul secara bersamaan. Saya merasa sangat sangat bersyukur saya bisa berada di kelas ini.

Ada banyak hal yang terjadi dan dapat saya jadikan pelajaran selama uprak ini. Saya banyak merefleksikan diri saya sendiri dan memikirkannya. Ada saatnya kita merasa terlalu kesal dan lelah, ada saatnya kita merasa senang dan sedih, ada saatnya kita merasa bersyukur dengan keberadaan kita semua. Sesuatu yang tidak pernah saya prediksi ternyata juga bisa terjadi dan saya belajar bagaimana cara untuk menghadapinya. Terkadang, ada sesuatu yang anda sendiri tidak bisa memahaminya dan tidak bisa diungkapan secara langsung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *