Refleksi Kegiatan Ujian Praktik
Keiko Mooi Ferdinand XII-F1/22

3 September 2025
Salah satu rapat online pertama sebagai scriptwriter, di sini kami mencari beberapa ide tokoh yang mau kita tampilkan untuk Drama Persembahan UPRAK nanti. Kami mencari beberapa tokoh dari Indonesia maupun yang berasal dari luar negeri. Kita juga menulis beberapa latar belakang setiap tokoh tersebut dan membuat hasil voting setiap anggota untuk melihat dari semua yang kita pilih, yang mana yang paling menarik. Saat ini, tokoh Gabriel Manek sama sekali belum dijadikan salah satu tokoh pilihannya.
Akhir September 2025
Awalnya kami telah menentukan tokoh, yaitu Maria Soelastri. salah satu pertimbangannya juga karena kelas kami didominasi oleh cewe. Namun, pada saat pemilihan tokoh bersama kelas lain, ada kelas lain yang juga memilih tokoh tersebut. Setelah it,u kami kembali mencari tokoh, dan pada akhirnya kami menemukan Mgr. Gabriel Manek.

October 2025- Awal Desember 2025
Proses penulisan naskah sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum latihan intensif, yakni sejak bulan Oktober hingga Desember. Para penulis sering bertemu secara langsung di kafe maupun berdiskusi melalui Discord untuk merancang jalan cerita. Sebelum mulai menulis, kami terlebih dahulu mencari serta mengumpulkan berbagai informasi mengenai Gabriel Manek. Salah satu narasumber utama kami adalah Suster Karina dari PRR, kongregasi yang didirikan oleh beliau. Dari proses tersebut, kami berusaha memastikan bahwa cerita yang disusun tetap berpegang pada peristiwa nyata, meskipun pada awalnya data yang tersedia belum lengkap dan cukup sulit dirangkai menjadi alur yang utuh.
Sepulang sekolah, sutradara bersama tim penulis kemudian melanjutkan penyusunan skenario. Pada hari itu kami menyediakan waktu yang panjang untuk menuntaskan naskah. Penulisan dilakukan bersama-sama tanpa dibagi per bagian agar seluruh anggota memiliki pemahaman yang sama. Kami berdiskusi cukup banyak demi mendapatkan alur cerita yang paling baik. Akhirnya draf pertama pun selesai. Setelah pembagian peran kepada setiap anggota kelas, naskah dibagikan kepada para pemain untuk mulai menghafalkan dialog dan menjalani latihan bersama.
Namun, proses penyusunan naskah tidak selalu berjalan lancar. Kami beberapa kali harus merevisi, bahkan merombak bagian-bagian tertentu karena alur yang dirasa kurang kuat atau kurang menarik.

Lalu setelah penampilan di depan guru, kami mendapatkan banyak masukan dan insight baru, terutama dari Ma’am Vian, untuk skrip ka.i, Jadi saat masa liburan Desember, kita para skripwriter langsung cepat-cepat untuk merevisi. Ini juga agar tidak memperlambat pekerjaan semua sisi lainnya.

Awal Januari
Setelah ada pergantian skrip, kami dari sie costume langsung duduk bareng lagi buat mengurutkan ulang semuanya di rapat dan menyesuaikan peran tokoh sesuai scene masing-masing. Kami mulai dari scene 1 sampai 10, sambil mencatat siapa saja tokoh yang muncul di tiap bagian dan membahas kira-kira kostumnya harus seperti apa. Dari situ, kami juga kepikiran mana yang bisa dibuat sendiri (DIY) dan mana yang lebih masuk akal untuk dipinjam, termasuk harus pinjam ke siapa. Prosesnya cukup bikin mikir, tapi justru seru karena pelan-pelan semuanya mulai kelihatan lebih jelas dan terarah



Setelah semua pembagian dan penyesuaian selesai, kami masuk ke fase yang paling panjang dan paling melelahkan: latihan dan runthrough tanpa henti. Dari Januari sampai Februari, hampir setiap minggu kami habiskan waktu bersama sebagai satu kelas. Mulai dari latihan menari, menyanyi, sampai membedah detail kecil di tiap scene—siapa masuk dari mana, properti dipegang siapa, timing dialog, ekspresi, bahkan posisi berdiri pun kami perhatikan. Sabtu dan Minggu di sekolah atau studio sudah jadi hal yang biasa. Rasanya aneh kalau akhir pekan justru tidak ketemu kelas.
Di awal-awal latihan, jujur saja ritmenya belum terlalu rapi. Kadang mulai tidak tepat waktu, kadang masih banyak bercanda. Tapi semakin mendekati hari-H, semuanya berubah. Runthrough mulai dilakukan lebih sering, dan kami benar-benar mencoba membawakan dari scene 1 sampai akhir tanpa berhenti. Setiap kali selesai, pasti ada evaluasi. Dari situ kelihatan perkembangan kami yang tadinya masih canggung, lama-lama jadi lebih menyatu.
Memasuki H-10, latihan terasa berbeda. Waktu seperti berjalan lebih cepat. Dulu rasanya hari tampil masih jauh, Sekarang tiba-tiba sudah menghitung hari. Kami mulai latihan lengkap dengan sound dan lighting, jadi bisa membayangkan suasana panggung yang sebenarnya. Ada momen capek, pasti. Tapi lebih banyak momen serunya ketawa bareng, panik bareng, semangat bareng.

Jujur, waktu gladi bersih itu rasanya benar-benar dapet feel-nya. Karena semuanya dibuat persis seperti hari H—pakai kostum lengkap, makeup, properti, sound, lighting—jadi suasananya sudah bukan kayak latihan lagi. Ditambah lagi kelas kami tampil pertama, jadi rasa nervous-nya kerasa banget dari pagi. Belum sempat lihat kelas lain tampil, belum tahu suasananya seperti apa, tapi sudah harus langsung maju duluan.
Sebagai salah satu yang membawakan 4 bahasa, saya benar-benar deg-degan. Rasanya beda antara latihan di kelas dengan benar-benar berdiri, bicara, dan dilihat banyak orang. Setiap kalimat yang keluar terasa lebih berat karena tahu ini pakai mic dan suaranya terdengar jelas ke seluruh ruangan. Tapi justru di situ saya merasa tertantang karena harus lebih fokus, lebih tenang, dan benar-benar menguasai bagian saya.
Setelah gladi bersih itu juga kami banyak belajar. Salah satu evaluasi pentingnya soal disiplin saat ada mic menyala. Kami jadi sadar sekecil apa pun suara di backstage bisa masuk dan terdengar. Dari situ kami benar-benar belajar untuk lebih menjaga sikap, harus diam di timing tertentu, dan lebih aware dengan teknis panggung. Gladi bersih bukan cuma soal mencoba tampil, tapi juga jadi momen evaluasi besar sebelum hari H. Dan walaupun tegangnya luar biasa, ada rasa bangga juga karena akhirnya kami bisa merasakan suasana yang benar-benar seperti penampilan sesungguhnya.


Akhirnya hari yang ditunggu itu datang juga. Pagi itu rasanya campur aduk—antara semangat, takut, dan tidak sabar. Awalnya saya masih bisa bercanda seperti biasa, makeup dengan tenang, ngobrol ringan supaya tidak terlalu tegang. Tapi begitu kelas sebelum kami selesai tampil, suasananya langsung berubah. Jantung mulai berdebar lebih kencang. Kami pun duduk melingkar untuk briefing terakhir, saling mengingatkan hal-hal kecil yang jangan sampai terlewat. Setelah itu kami doa bersama dan mencoba menenangkan diri sejenak. Saat berjalan menuju bangsal, rasanya setiap langkah makin terasa berat. Di backstage, semua langsung fokus dengan tugas masing-masing, ada yang cek properti, pasang clip-on, pegang HT, latihan dialog terakhir, sampai mengulang koreo pelan-pelan di sudut ruangan. Saya sendiri mencoba mengatur napas dan mengingat kembali bagian saya. Sebelum mulai, kami sempat saling menyemangati. Kalimatnya sederhana, tapi rasanya menguatkan sekali.
Begitu penampilan dimulai, anehnya rasa takut itu perlahan hilang. Semua terasa seperti mengalir. Fokusnya bukan lagi ke penonton atau juri, tapi ke cerita yang kami bawakan. Saya benar-benar menikmati setiap bagian, terutama saat suasana panggung mulai terasa hidup. Di beberapa momen, saya bisa merasakan emosi teman-teman bahkan dari balik panggung—cara mereka menyampaikan dialog, ekspresi wajah, sampai energi yang diberikan di setiap gerakan. Di ending scene, saat kami bernyanyi bersama, rasanya sulit menahan haru. Semua proses seperti terulang cepat di kepala—latihan berbulan-bulan, revisi yang tidak ada habisnya, capek, tegang, bahkan momen-momen kecil ketika kami hampir menyerah. Tiba-tiba semuanya terasa sangat berarti. Bukan cuma karena tampilannya berjalan lancar, tapi karena kami benar-benar melaluinya bersama.
Setelah selesai, rasanya lega luar biasa. Kami foto bersama, saling peluk, ada yang ketawa, ada juga yang masih berkaca-kaca. Saat menonton ulang penampilan kami, kali ini tidak lagi penuh evaluasi seperti biasanya, tapi lebih ke rasa bangga. Saya sadar, ini bukan sekadar ujian praktik. Ini proses panjang yang mengajarkan kami tentang tanggung jawab, kerja sama, komunikasi, dan bagaimana rasanya saling mengandalkan satu sama lain.

Hari itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam di atas panggung, tapi maknanya jauh lebih besar dari itu. Semua lelahnya terbayar. Dan saya benar-benar bersyukur bisa jadi bagian dari perjalanan ini bersama F1.






Leave a Reply