Ini lah bagian penting dari perjalanan ku di SMA, yaitu Pagelaran karya untuk nilai UPRAK. Ujian praktek tahun ke tahun adalah membuat sebuah pertunjukan drama/teater per kelas. Pada kesempatan ini, saya dipercayakan untuk menjadi salah satu sutradara. Peran saya sebagai seorang sutradara adalah mengkoordinasikan pertunjukan dengan semua sie dan mengatur jalan cerita pertunjukan.
1. Agustus – September 2025
Pada bulan ini, kami satu kelas mencari tokoh yang ingin diangkat. Pada awalnya kami telah memilih tokoh, yaitu Maria Soelastri. Tetapi pada pemilihan tokoh bersama kelas lain, terdapat kelas lain yang mengambil tokoh tersebut. Setelah itu kami mencari tokoh, dan pada akhirnya kami bertemu dengan Bapa Uskup Gabriel Manek.
2. 4 October 2025

Setelah mengetahui tokoh yang akan kami angkat, kami memulai dengan mencari sumber. Kami bertanya kepada suster-suster tarekat Putri Reinha Rosari (PRR) yaitu tarekat yang dibuat oleh Bapa Uskup Gabriel Manek. Ini hanya salah satu contoh mencari sumber, kami juga pergi ke rumah dari suster-suster PRR.
3. 10 October 2025

Sepulang sekolah, sutradara dan scriptwriter memulai membuat naskah.
4. 18 October 2025

Pada hari ini, kami mengambil waktu yang panjang untuk menyelesaikan naskah. Naskah dibuat bersama-sama, tidak per bagian agar semua anggota dalam pikiran yang sama. Kami banyak membahas untuk mendapatkan alur cerita terbaik. Setelah hari ini kami memnberi naskah kepada murid kelas untuk melatih. 
5. Minggu 1 Desember 2025


Kami melakukan latihan pertama di bangsal bersama guru. Setelah guru-guru melihat, mereka merasa bahwa terlalu banyak peristiwa yang dimasukan yang membuat pertunjukan membosankan. Kami disarankan untuk menata ulang naskab kami. Kami disuruh untuk memilih satu atau dua peristiwa penting. Hal ini membuat saya sangat down karena hasil kerja dari teman-teman terbuang sia-sia. Seharusnya saya konsul kepada lebih banyak guru untuk memberi pendapat sebelum kami berlatih di bangsal bersama guru-guru sie acara UPRAK.
6. 16 Desember 2025

Karena terjadi perubahan naskah, sutradara dan scriptwriter bertemu kembali untuk membahas naskah secepat mungkin agar selama liburan kelas bisa membaca dan melihat naskah yang telah jadi.
7. 13 Januari 2026
Setelah liburan, kami mulai latihan setiap pulang sekolah. Dalam proses latihan tersebut, tentu banyak pendapat yang berbeda yang dapat menghasilkan menjadi sebuah masalah. Yang saya rasakan, banyak masukan yang masuk tetapi tidak diberikan solusi. Saya menjadi bingung bagaimana menanggapi sedangkan kami belum selesai mecoba semua adegan. Dari pengalaman itu saya belajar bagaimana menanggapi orang dengan baik.
8. 14 Januari 2026

Dalam 1 minggu, setiap kelas diberi jadwal untuk berlatih di 3 tempat besar yaitu Vincentius Hall, Francis Room, dan Lazarin Hall. Pada hari itu, kelas saya berlatih di V-hall. Kami fokuskan latiahn tersebut dalam detailing menari.
9. 25 Januari 2026

Kami mulai untuk berlatih di tempat lain selain sekolah. Kami berlatih 3-4 kali dalam 1 minggu. Tidak hanya berlatih, kami juga mengerjakan properti seperti batang kayu di foto ini.
10. 27 Januari 2026

Kami sewa studio untuk karena kami mencari tempat yang lebih luas. Dalam latihan ini, kami secara maksimal memanfaatkan waktu yang kami miliki.
10. 28 Januari 2026
Kami melakukan latihan di bangsal. Setiap kali kami berlatih di bangsal, kami melakukan banyak evaluasi. Berlatih di bangsal memberi gambaran yang lebih jelas bagi saya sebagai sutradara, dan bagi pemeran karena bisa melakukan blocking. Kami juga mencoba dengan sound, background, dan lighting seadanya.
11. 4 Februari 2026

Hari pertunjukan sudah semakin dekat dan kami berlatih lebih serius lagi. Pada tanggal ini sudah 9 hari lagi menuju pertunjukan. Kami menentukan untuk berdoa novena 3 kali salam Maria yang diikuti oleh anggota kelas. Kami memohon berkat kepada Bunda Maria atas kelancaran pertunjukan.
12. 5 Februari 2026

Kami melanjutkan latihan sepulang sekolah. Semakin dekat kami berlatih untuk memperbaiki detail-detail kecil. Kami memberi masukan detail kecil pada acting agar anggota kelas bia membawa tokoh mereka masing-masing.
13. 10 Februari 2026

Pada hari ini, kami melakukan gladi kotor di bangsal. Kami berlatih untuk masuk keluar properti. Kami melihat blocking dari properti-properti yang kami miliki.
14. 11 Februari 2026

Kami melakukan gladi bersih yang menjadi latihan terakhir kami di bangsal sebelum pertunjukan. Saya bersyukur karena selama gladi bersih tidak ada kesalahan yang besar. Para pemain sangat mendalami peran nya masing-masing. Operator juga membuat atmosfer dari pertunjukkan nya lebih dramatis.
15. 12 Februari 2026


Tinggal 1 hari lagi menuju pertunjukkan. Pada latihan runthrough kami yang terakhir, kami semua bekerja keras. Kami melakukan semua tugas yang diberikan pada kami semua. Saya sangat senang karena semua anggota kelas berpartisipasi dengan baik. Setelah berdoa selesai latihan, ada beberapa teman yang menangis karena terharu. Saya juga menjadi terharu karena kita semua benar-benar telah merasakan kehangatan antar teman. Setelah dari situ, saya bersama 3 teman saya pergi ke rumah suster PRR untuk meminjam pigura Bapa Uskup Gabriel Manek dan meminta berkat untuk pertunjukkan kami. Kami sedih karena tidak bisa mengundang mereka untuk melihat pertunjukan kami, tetapi pada akhirnya kami memberi link livestreaming. Hari ini juga merupakan hari terkahir kami berdoa novena 3 kali Salam Maria.
16. 13 Februari 2026

Hari pertunjukan pun tiba. Kami datang ke sekolah lalu berdoa telerbih dahulou bersama Bu List, wali kelas kami. Kami sangat bersyukur atas guru yang sangat mendukung proses pertunjukan kami. Kami mulai dengan merias pemeran-pemeran. Lalu kami istirahat sejenak agar kami memiliki energi nantinya. Lalu kami berlatih nari dan menyanyi terkahirnya dan juga menghangatkan suara kami. Lalu, kami melingkar dan memberi afirmasi dan dukungan pada satu sama lain agar pertunjukkan kami bisa lancar. Kami melakukan meditasi sejenak untuk bisa membawa tokoh dan perang yang diberikan kepada kami.
Akhirnya, kami naik ke bangsal dengan hati yang berdebar. Tetapi kamu semua mengetahui bahwa setelah latihan yang banyak, kami pasti dapat memberika yang terbaik. Sebelum MC mulai memperkenalkan dan membawa sinopsis kelas kami, saya menyemangati setiap anak yang di backstage. Saya ingatkan untuk tenang dan tidak tergesa-gesa. Akhirnya, mulai lah pertunjukan kami. Pada saat pertunjukan saya pergi bolak-balik dari sisi kanan dan kiri untuk memastikan semuanya berjalan dengan lancar. Sebelum teman-teman keluar untuk menari, saya ingatkan untuk tersenyum dan berikan energi itu ke penonton. Terkahir, kami bernyanyi lagu “The Prayer” bersama-sama. Di situ saya bersiap-siap untuk naik ke panggung berfoto di akhir. Tidak disengaja, saya bertemu dengan Bu List. Di situ, rasa lega saya muncul dan saya mulai berkaca-kaca. Bu List mengatakan bahwa dia sangat terharu dan penampilan kita sungguh bagus. Lampu mati dan saya naik untuk foto. Setelah foto bersama wali kelas, semua orang tua maju untuk foto. Saat itu, koordinator kelas saya, EC, memberikan bouquet bunga kepada saya. Saya melihatnya menangis, dan itu membuat saya menangis juga. Saya sangat senang bahwa kelas kami bisa bekerja sama dengan baik.
Setelah sesi foto, kami melanjutkan sesi foto bersama orang tua di Pocin dan Lobby gedung A. Pada saat itu, saya benar-benar senang. Setelah itu, kami satu kelas membersihkan semua prop yang ada di kelas sembari menonton ulang pertunjukan kami.
Dari pengalaman ini, saya belajar banyak hal. Menurut saya, ada banyak hal yang perlu saya benarkan sebagai seorang sutradara. Pertama adalah tidak bisa membuat semua anggota kelas partisipatif. Ada beberapa anggota kelas yang memilih untuk izin dan hal itu menghambat latihan kelas. Walau memiliki peran yang kecil, tapi mereka tidak ingin ikut. Itu yang membuat saya merasa gagal. Lalu yang lain adalah kurang membuat alur cerita yang bagus, Menurut saya, drama kelas saya bisa ditingkatkan tetapi saya juga kebingungan. Lalu saya susah menerima kritik dari orang lain. Saya langsung menolak, tetapi seharusnya saya mendengarkan dan berpikir lebih lanjut. Tetapi dalam proses berpikir itu saya menjadi labil dan malah tidak bisa menentukan pilihan. Itu adalah menurut saya hal yang harus saya refleksikan supaya kedepannya bisa lebih baik lagi.
Dalam proses latihan, saya diingatkan kembali bahwa saya harus rendah hati dalam semua perkataan dan perlakuan saya kepada teman-teman. Saya harus bisa menjadi wadah agar semua anggota kelas bisa memberikan masukan, kritik, saran dengan tidak segan. Saya harus bersyukur atas semua anggota kelas yang sudah mau membantu dan meluangkan waktunya untuk UPRAK kelas kami. Dengan kerendahan hati, saya bisa menyatukan kelas saya. Kelas saya akan tidak terpecah dan ada anggota yang terpinggirkan. Saya juga diajarkan untuk menjadi orang yang lebih sabar. Yang dapat mengontrol amarah dan emosi nya. Bersikap lemah lembut bukan berarti saya akan “lembek” tetapi saya harus membuka diri untuk mendengarkan opini teman.
Akhir kata, terima kasih formula 1
Absen 29









Leave a Reply