Bagian hidup paling menarik dari tokoh Gabriel Manek adalah keberaniannya untuk melawan tentara Jepang dan membela martabat manusia yang paling terpinggirkan (penderita kusta). Yang membuat kisahnya sangat menarik bagi saya adalah konflik batin dan lahir yang dihadapinya. Di satu sisi, ada konflik dengan struktur kekuasaan. Di sisi lain, ada konflik personal yaitu melawan ketakutan, jijik, dan prasangka masyarakat yang mungkin awalnya juga ada dalam dirinya terhadap penyakit kusta. Dari konflik itulah lahir cahaya keteladanannya. Dia memilih untuk tidak hanya mengabdi dari jauh, tetapi benar-benar hidup bersama dan memperjuangkan hak-hak saudara-saudari penderita kusta. Keberaniannya itu, yang berakar pada iman dan belas kasih yang mendalam, menunjukkan bahwa panggilan terbesar manusia adalah memulihkan martabat di tempat ia paling diinjak-injak. Ini menjadi bagian hidup yang paling menggugah dan memotivasi saya secara pribadi.
Saya memerankan seorang tentara Jepang yang kemudian juga terlibat dalam adegan yang membutuhkan nyanyian, tarian, dan tata rias (makeup). Sebagai “tentara Jepang,” saya mewakili simbol kekuasaan asing, yang kontras dengan tokoh utama (Gabriel Manek) yang adalah pribumi pembela rakyatnya. Nyanyian dan tarian menjadi alat narasi untuk menyampaikan suasana, konflik, atau emosi yang tidak terucapkan. Namun, puncak refleksi saya adalah pada saat melakukan makeup untuk karakter kusta. Proses duduk berjam-jam, mengubah wajah dan tubuh saya untuk menampilkan luka-luka yang menjijikkan, adalah ritual empati yang sangat kuat. Peran ini mengajarkan saya bahwa kolaborasi seni teater adalah kerja kolektif untuk menjadi orang lain, memahami sudut pandang mereka, dan pada akhirnya, membawa penonton pada pengalaman empati yang sama. Saya belajar bahwa kontribusi saya, meski bukan sebagai tokoh utama, adalah bagian vital dari mosaik cerita yang utuh.







Leave a Reply