Ujian Praktik XII-F1 dengan judul “Gabriel Manek: Light for The Leper” meinggalkan jejak yang sangat berkesan di dalam diri saya. Di sepanjang perjalanan UPRAK kelas kami, saya menikmati setiap menitnya. Para scriptwriter memercayai saya untuk menjadi seorang pemeran. Pada penulisan naskah yang pertama saya ditugaskan untuk memerankan seorang suster. Namun, setelah naskah dirombak ulang, saya memerankan seorang warga dengan watak antagonis. Sebagai salah satu pemeran, tidaklah mudah untuk menyesuaikan diri, namun saya merasa dinamika kelas kami sangat membantu saya pada setiap latihan-latihan kami.
Saya merasa dengan dirombak ulangnya naskah, naskah kami memang menjadi lebih baik dari sebelumnya. Namun di sisi lain, kerja keras kelas dan para scriptwriter sejak Oktober terbuang. Kami harus mengulang semuanya di semester kedua. Kami pun mulai menjalankan latihan dengan naskah baru kami. Pada latihan runthrough kami yang pertama di bangsal, saya tidak dapat memerankan peran saya dengan baik. Saya takut untuk melukai lawan peran saya, yang mana adalah teman sekelas saya sendiri. Namun, berkat dari teman-teman saya yang meyakinkan saya untuk memaksimalkan peran saya, bahkan lawan peran saya yang sangat tulus, saya pun dapat memerankan karakter saya dengan maksimal.

16 Januari 2026—Pertama kalinya kami berlatih di studio milik teman kami, yang mana adalah studio yang selalu kami gunakan pada latihan-latihan berikutnya. Saya ingat dengan jelas dengan latihan koreografi, runthrough, dan menyanyi kami yang belum terarah. Saya juga ingat dengan koreografi lama yang masih kami gunakan.

Pada tanggal 28 Januari, kami pun diberi kesempatan untuk melakukan latihan di bangsal. Pada latihan kali ini, kami disertai beberapa guru, Ma’am Vian, Pak Yogi, dan Bu Grani. Mereka membimbing kami untuk memaksimalkan pertunjukan UPRAK kami.


Selain berlatih di luar jam sekolah, kami juga beberapa kali berlatih di jam sekolah. Kami berlatih di Francis Room, kelas, maupun bangsal. Kami juga sempat menyewa studio di luar sekolah.
Pada tanggal 10 Februari, kami melakukan gladi kotor. Pada gladi kotor ini, khususnya para properti, kami berlatih penuh dengan kegugupan, namun gladi kotor ini berjalan dengan baik. Kami sempat melatih hair-do, make-up, kostum, dan lain-lain, untuk memastikan hari-H nantinya akan berjalan dengan sempurna. Esok harinya, kami pun melakukan gladi bersih. Meski menjadi kelas paling awal, namun kelas kami tetap menjalankannya dengan baik. Meskipun saya sempat mengacaukan dialog saya, tetapi saya pikir hal-hal lainnya sudah tidak perlu dikhawatirkan. Maka, saya berjanji kepada diri saya, hari-H nantinya dialog saya harus sempurna.
Tanggal 13 Februari 2026—saya bangun lebih awal dari biasanya. Saya merasakan tenggorokan saya yang sakit. Namun, saya yakin, flu saya tidak akan mengacaukan saya jika saya tidak membiarkannya mengganggu pikiran saya. Sesampainya di sekolah, saya sempat beristirahat sebentar sembari menunggu giliran pertunjukan kami, yaitu kelas terakhir, jam paling akhir. Pada jam sepuluh, kami mulai melakukan hair-do, make-up, dan mengenakan kostum. Meski hari itu tidak ada latihan, namun kami tetap melakukan latihan koreografi dan bernyanyi. Suasana kelas mulai emosional. Inilah proyek terakhir kelas kami. Maka, kami harus memastikan proyek ini sempurna.
Jam menunjukkan pukul 13:47. Kami dalam perjalanan menuju bangsal Lazaris. Suasana yang tadinya emosional seketika menjadi tegang. Sesampainya di bangsal, kami mempersiapkan diri maupun kostum ganti, dan lainnya. Intro empat bahasa berjalan. Inilah saatnya pertunjukan dimulai. Teman-teman saya gelisah, grogi, takut, namun kami menarik napas dalam dan masuk ke dalam karakter kami masing-masing. Adegan 1 berjalan. Adegan 2 pun datang. Inilah adegan saya. Saat menatap lawan peran saya, detik itu pun saya masuk dalam karakter. Tidak pernah saya memerankan karakter saya begitu mencolok. Adegan 2 pun berakhir. Tugas saya belum selesai, masih ada adegan warga menari dan nyanyian di penghujung pertunjukan. Namun ketiga peran tersebut saya antarkan dengan cukup baik. Jujur saya bangga dengan diri saya, dan juga kelas kami.
Lampu padam. Adegan nyanyi pun selesai. Kami masing-masing menuju ke spot foto kelas kami. Suasana menjadi sangat emosional. Beberapa teman saya pun sudah menangis dengan haru. Dengan rasa lega dan haru, saya pun mengeluarkan emosi saya juga di samping teman-teman. Perjalanan UPRAK pun ditutup dengan pertunjukan kami yang cukup sempurna.








Leave a Reply