POV: Jadi sutradara dalam ujian praktik kelas XII sinlui 1.
Inilah kisahku selama beberapa bulan terakhir, yang berperan sebagai sutradara dalam pagelaran karya ujian praktik kelas XII.
Perjalanan ini dimulai pada bulan agustus awal ketika wali kelas kami, Bu List, mulai menyinggung tentang ujian praktik yang mendatang. Tidak lama setelah itu, kelas mulai melakukan pembagian kepanitiaan. Terdapat banyak sie yang bisa dipilih, mulai dari scriptwriter, kostum, properti, hingga make up artist. Pada saat itu, saya dalam keadaan bingung, “Sie mana ya, yang cocok buat aku?” pikirku dalam hati. Saat itu aku memutuskan untuk memilih agak terakhir sambil menimbang-nimbang. Dan yak, pada akhirnya aku memilih sie paling terakhir dan posisi yang tersisa hanyalah sutradara kedua. “Muateng kok tinggal sutradara….”, pikirku dalam hati. Dengan pengalaman dan pengetahuan yang sangat minim, aku merasa kurang pantas mengisi posisi ini, tetapi aku merasa teman-teman sekelas mendukung ku untuk mengisi posisi ini dan aku percaya aku dapat bekerja sama dengan partner sutradaraku yaitu, Tanya.


Setelah terpilih menjadi sutradara, aku dan Tanya langusng berkolaborasi dengan scriptwriter untuk melakukan pemilihan tokoh yang akan kami angkat menjadi sebuah drama. Kami memilih beberapa tokoh lalu membuat kasaran alur ceritanya. Setelah itu, kami mengerucut pada 3 pilihan tokoh dan kami ajukan pada saat pemilihan tokoh bersama guru dan semua kelas XII. Sayangnya, 3 pilihan tersebut ada yang sudah dipilih kelas lain terlebih dahulu dan tidak disetujui oleh para guru sehingga kami harus memilih ulang. Pada saat itu, kami mendapat rekomendasi tokoh yaitu Mgr. Gabriel Manek, SVD. Ketika kami mendapat rekomendasi kami langsung melakukan riset dan pembuatan alur kasar. Akhirnya, pilihan kami jatuh kepada beliau.
Disela-sela banyaknya tugas dan ulangan harian, kami dan tim scriptwriter selalu menyempatkan waktu untuk rapat dan membahas penyusunan script drama kami. Banyak tukar pikiran, ide, dan pendapat yang kami lakukan selama beberapa bulan.

Setelah berkonsultasi dengan beberapa guru, akhirnya script draft 1 kami sudah selesai. Pada akhir semester, ketika masa SAS sudah selesai, kami langsung menjadwalkan latihan di sekolah dan mencicil pembuatan properti. Sampai pada hari, dimana kami melakukan latihan bersama sie acara. Saat berlatih bersama sie acara, kami menampilkan progress kami dan setelah itu aku mendapat banyak evaluasi, kritik dan saran terhadap drama kami. Dalam evaluasi itu, kami harus memutar otak untuk merombak script kami menjadi lebih menarik untuk dipertunjukkan. Setelah evaluasi bersama guru, kami pindah ke kelas untuk melakukan evaluasi sendiri. Disinilah wajah-wajah panik, kecewa, sedih, dan sebagainya terlihat. Hal ini disebabkan oleh semua yang kami latih hilang sia-sia karena kami harus merombak script dan memulai ulang dari awal.

Beberapa hari setelah itu, kami bersama scriptwriter melakukan rapat untuk kembali bertukar ide dan pendapat untuk menyusun script baru. Pada hari itu kami bersama-sama berpikir keras selama berjam-jam untuk membuat cerita yang menarik untuk dipertunjukkan, tetapi pada hari itu belum selesai. Berhubung saat itu sudah dekat dengan natal dan masa liburan tahun baru, kami terpaksa bekerja secara online dan sedikti terhambat karena beberapa anggota sudah pergi berlibur.



Liburan telah usai, kembali ke realita. Script kami belum sepenuhnya selesai, maka pada minggu pertama sekolah kami harus segera menyelesaikan script kami dan segera melakukan latihan karena hari H sudah kurang satu bulan. Sebelum melakukan latihan, tidak lupa juga kami melakukan scriptreading. Tidak lama setelah itu, jadwal latihan mandiri di 3 ruangan besar sekolah sudah keluar. Mau tidak mau, kami harus melakukan latihan dengan progress apa adanya. Dalam latihan itu, kami dibimbing dan diberi masukan oleh para guru agar pertunjukkan kami memuaskan.
Ditengah-tengah latihan itu, kami juga tidak lupa untuk melakukan shooting trailer dan foto poster. Disini aku, Tanya, EC sebagai koordinator kelas dan tim dekorasi bekerja sama untuk menyusun alur trailer, menentukan lokasi shooting, dan menentukan siapa saja yang akan menjadi aktor dalam trailer tersebut. Disini aku bisa melihat kerja keras dan pengorbanan teman-temanku karena kami memutuskan untuk shooting di pagi hari agar tidak kepanasan. Kami memutuskan untuk shooting pagi hari karena lokasi shooting kami outdoor. Tim MUA dan aktor berkumpul pagi sekali untuk melakukan make up, sedangkan aku dan tim shooting langsung menuju lokasi untuk bersiap. Puji Tuhan proses shooting berjalan dengan lancar tanpa kendala apapun.

Waktu terus berjalan dan kami terus menerus melakukan latihan. Dalam proses latihan ini, kami saling memberi masukan satu sama lain agar pertunjukkan kami dapat berjalan dengan lancar dan menarik untuk dintonton. Dalam proses ini banyak sekali suka dan duka yang kami lewati. Ada saat dimana semuanya bersemangat untuk berlatih dan memberikan yang terbaik, tetapi ada juga saat dimana semuanya merasa lelah dan jenuh. Menurut saya, hal ini terjadi karena kita terus menerus melatih satu hal yang sama sehingga mereka merasa bosan. Ada juga saat dimana kami mengalami miskomunikasi dan salah paham terhadap satu sama lain sehingga menimbulkan sedikit permusuhan yang sedikit menghambat proses kami. Dalam miskomunikasi ini, meskipun aku diposisikan sebagai sutradara, aku merasa aku juga memiliki tanggung jawab untuk menengahi permasalahan ini. Aku menengahi satu miskomunikasi, disini aku belajar bahwa setiap manusia itu unik, mereka memiliki cara pikir dan cara pandang mereka masing-masing, sehingga kita harus menurunkan ego dan berusaha saling memahami satu sama lain agar dapat sepaham dan menyelesaikan masalah.


Hari H sudah dekat dan kata-kata “latihan terakhir” sudah mulai terdengar. Hari ini adalah latihan terakhir kami. Setelah berbulan-bulan mengulang 20 menit yang sama sampai jenuh, akhirnya ini adalah runthrough terakhir kami. Disini rasa bahagia, sedih, terharu, semuanya bercampur aduk karena kami akhirnya menyelesaikan proses latihan. Beberapa dari kami tidak bisa menahan tetesan air mata, sehingga tetesan air mata itu menular dan banyak dari kami akhirnya menangis bersama.
Akhirnya, 13 Februari 2026 tiba. Inilah hari H kami. Setelah doa pagi dari sentral, Bu List datang ke kelas untuk berdoa bersama kami dan memberi kami motivasi, “Apapun yang terjadi, show must go on,” ujar Bu List. Setelah berbincang-bincang sedikit dengan Bu List, kami langsung melakukan persiapan, hal yang paling pertama adalah make up dan hair do. Dua hal ini adalah yang penting dan memakan banyak waktu.

Tidak terasa kelas XII-D2 sudah selesai tampil, ini berarti giliran kami akan datang. Selagi kelas XII E tampil, aku mengajak teman-teman untuk melingkar dan melakukan briefing terakhir. Setelah briefing, aku memimpin meditasi singkat dan doa agar semua dapat menenangkan diri dan fokus pada tugas dan perannya masing-masing. Selagi mengunggu kelas XII E selesai, jantung kami berdebar-debar. Ada perasaan semangat, takut, bangga, semuanya bercampur menjadi satu saat itu. Tidak lama kelas XII E selesai dan akhirnya giliran kami naik ke bangsal. Aku langsung berjalan ke meja operator untuk mengambil HT dan membagikan kepada teman-teman operator. Setelah itu, aku berjalan ke meja clip on untuk memastikan lagi semuanya sudah nyala dan diposisi yang baik. Setelah itu aku keliling backstage untuk memastikan semua properti sudah aman dan juga tidak lupa untuk saling menyemangati teman-teman yang ada disana.


Semua berjalan dengan lancar, tidak ada kendala sama sekali. Aku merasa bahwa ini adalah runthrough terbaik selama ini. Berbulan-bulan kami berlatih dan inilah hasil terbaik yang dapat kami berikan. Semua rasa gugup dan takut perlahan-lahan berubah menjadi rasa haru dan bahagia, juga penuh syukur. Setelah selesai, kami langsung menurunkan semua properti dan mengambil foto di pocin dan tangga gedung A.

Menurutku, UPRAK ini bukan sekadar UPRAK biasa melainkan sebuah proyek yang memiliki banyak proses bermakna di dalamnya. Mulai dari belajar hal baru tentang dunia teater, lalu belajar bagaimana memahami setiap individu yang ada di kelas, belajar menerima kritik dan saran, belajar menyelesaikan masalah, belajar tentang dunia akting, belajar membuat properti, dan juga belajar hidup berkomunitas. Terima kasih F1 atas pengalaman yang sangat indah dan bermakna ini!








Leave a Reply