Refleksi Pribadi Viona Diarta XII-F1/36

Ujian praktik kelas 12 “Light for the Leper” ini adalah pengalaman yang akan selalu saya ingat dan membekas di hati saya. Saya merasa ujian praktik ini membuat saya menyadari betapa sayang dan berharganya kelas 12f bagi saya. Pengalaman yang kami lalui bersama memang tidak lancar, ada banyak bentroknya, tapi justru itu yang membuat kami semakin memahami satu dengan yang lain.

Mulai dari awal-awal ketika kami memilih tokoh dan akhirnya memilih Bapa Uskup Gabriel Manek untuk diangkat menjadi cerita pagelaran kami, lalu scriptwriters menulis script untuk pagelaran, sampai awal ketika pertama kali tampil di depan guru dan dikritik karena jalan cerita yang terlalu dokumenter. Ketika awal-awal menerima kritikan itu, saya merasa sia-sia. Usaha menulis script oleh scriptwriters, dan latihan yang kami lakukan rasanya tidak ada gunanya, karena semuanya harus dirombak. Tetapi kalau diingat kembali, sepatutnya kami bersyukur atas kritikan itu, kalau tidak ada kritikan itu mungkin pagelaran kami tidak akan sememuaskan ini.

Perombakan script terpaksa membuat kami mengulang semuanya ketika awal semester 2. Hal ini sempat membuat saya merasa kelas kami terbelakang dibandingkan dengan kelas-kelas lainnya, padahal bisa dibilang kelas kami yang memulai paling awal. Ketika kami pertama kali mulai latihan di 3 ruang besar sekolah, bisa dibilang kami tidak melakukan runthrough sama sekali, dan lebih memfokuskan ke adegan per-scenenya. Di uprak ini saya menjadi salah satu pemeran kusta, dan terdapat adegan kusta dibully oleh warga. Adegan ini menunjukkan bagaimana kusta dihina, diinjak, dan dikucilkan oleh masyarakat, sehingga acting yang harus dilakukan itu seperti terjatuh, tersungkur, merangkak, akibat didorong oleh warga. Nah karena tidak melakukan runthrough sama sekali ketika latihan di 3 ruang besar dan hanya memfokuskan pada beberapa adegan saja, akhirnya adegan kusta dibully ini diulang terus menerus sampai lutut saya lecet dan perih semua. Ketika itu saya sempat merasa kesal karena menurut saya latihannya tidak efektif sama sekali. Saya merasa bahwa latihan yang memfokuskan ke adegan per-scene seharusnya dilakukan ketika tidak latihan di 3 ruang besar sekolah, apalagi bangsal yang merupakan tempat tampil kami. Tetapi yasudahlah tidak apa-apa.

Lalu ketika tanggal 17 Januari, saya dan beberapa orang melakukan rekaman trailer di Kedung Cowek. Supaya tidak kepanasan di Kedung Cowek, kami memutuskan untuk melakukan rekaman tidak terlalu siang. Kami janjian di rumah veve (rumahnya dekat Kedung Cowek) jam 5.30 pagi, sedangkan rumah saya dan veve itu dari ujung ke ujung, kalau jalan raya lancar butuh 45 menit. Akhirnya saya berangkat dari rumah jam 4.45 pagi dan sampai di rumah veve jam 5.28. Di rumah veve,  kami (saya, sesil, tea, liko, josep dan MUA there, audrey, aline, ck) siap-siap makeup dan pake kostum (airin, ate). Setelah selesai, sekitar jam 7 pagi kami berangkat ke Kedung Cowek, saya airin aline ate naik grab, meanwhile penampilan saya lagi dimakeup kusta dan pakai baju compang camping, sampe diketawain sama supir grabnya. Rekam trailer ini penuh pengorbanan, karena tempatnya sangat panas, banyak serangga, dan tidak ada toilet yang proper, lalu saya dan pemeran kusta lain juga diliatin sama warga setempat. Saya juga harus berkorban menyingkirkan rasa jijik ketika harus nyeker dan duduk di tanah yang banyak ulatnya karena mau rekaman jadi kusta. Tapi ini jadi pengalaman yang memorable, dan hasil trailernya juga sangat memuaskan jadi gapapa hihi.

Mulai tanggal 16 Januari, kami latihan di cortez studionya keiko. Awal-awal latihan di studio, saya merasa latihannya kurang efektif karena tidak mulai tepat waktu, dan sepertinya lebih banyak main daripada latihan. Lalu kami juga mulai membuat props seperti goa, bambu, tongkat kayu, dsb. Lalu ketika h-2 minggu pagelaran, mulai diberlakukan denda 5k/menit jika telat (kompensasi untuk telat 5 menit pertama tidak denda), akhirnya banyak yang tepat waktu, dan kami banyak runthrough, latihan flashmob, dan latihan choir.

Selain menjadi pemeran kusta, di uprak ini saya masuk ke sie dekorasi dan publikasi. Saya merasa kami banyak menghadapi kendala ketika membuat feeds instagram, terutama untuk meet the team dan poster. Saya banyak membantu di feeds coming soon, tapi yang feeds meet the team tidak seberapa berkontribusi karena sering saya tinggal latihan runthrough. Awalnya saya merasa feeds meet the team kurang, tetapi lama-lama dilihat bagus juga. Lalu poster juga banyak kendalanya. Sebenarnya poster seharusnya sudah jadi, tetapi ternyata banyak anggota kelas yang tidak setuju dengan design posternya, akhirnya kami rombak lagi dengan bantuan teman-teman lain terutama zio, jadi tidak hanya dari sie saya saja, tapi semuanya kasi pendapat dan ide. Dan akhirnya jadilah poster yang sekarang dipajang.

Latihan di depan guru membuat kami improve banyak dari sebelum-sebelumnya. Saya bisa merasakan perubahan itu kalau diingat lagi dari latihan pertama hingga hari-h penampilan. Ketika gladi bersih, kelas kami menuai pujian oleh kelas yang menonton yaitu E dan D2 karena keluar masuk pemeran dan properti sangat rapi, lalu actingnya bagus semua, dan ambiencenya sangat bagus. Ketika mendengar hal itu, kelas kami merasa sangat senang dan tidak sia-sia atas semua kerja kerasnya.

H-1 pagelaran, kami latihan untuk terakhir kalinya. Senang tapi juga sedih, senang karena hari yang ditunggu-tunggu datang juga, sedih karena ini penampilan kami terakhir kalinya, setelah itu tidak akan ada lagi latihan flashmob, tidak ada lagi runthrough, latihan choir, angkat-angkat props, menyiapkan kostum, dll. Latihan di hari itu kami tutup dengan duduk melingkar, saling memberi pesan satu sama lain “jangan lupa istirahat” “jangan makan gorengan” “apapun yang terjadi ingat semua latihan yang udah kita lakuin selama ini”. Kami berdoa, bergandengan tangan satu sama lain untuk kelancaran esok hari.

Hari yang ditunggu-tunggu pun datang. Beberapa diantara kami pagi-pagi beli lohankuo di ai poci karena sakit tenggorokan semua. Bu List selaku wali kelas datang ke ruang kelas kami, memotivasi, dan menyemangati kami. “Apapun yang terjadi, tetap tenang, lanjutkan penampilan kalian seperti biasa, jangan panik, ingat semua latihan yang telah kalian lalui, penampilan kalian tidak bisa dihentikan di tengah jalan, the show must go on”. Lalu kami mulai makeup, pakai kostum, dan hairdo. Kami pun berfoto satu sama lain untuk kenang-kenangan. Semakin mendekati jam tampil, mulai terasa tegangnya. Sekolah sudah sepi, karena jam tampil kami melewati jam pulang sekolah. H-2 jam kami latihan menari dan menyanyi bersama, dan itu cukup membantu menenangkan diri saya. H-1 jam kami duduk melingkar kembali, berdoa bersama demi kelancaran uprak, mengingatkan satu sama lain, dan menonton kelas E melalui livestream. H-30 menit kami mulai jalan ke bangsal. Di backstage saya tak berhenti berdoa dan menenangkan diri saya terus menerus. Ketika tampil, waktu berjalan terasa sangat cepat, dan tidak terasa pagelaran yang kami siapkan selama berbulan-bulan akhirnya selesai juga. Lega rasanya.

Selesai penampilan, kami berfoto bersama, banyak yang menangis, menerima buket dari orang tua, berpelukan dengan orang tua, dan merayakan selesainya uprak ini. Kami menonton kembali penampilan kami bersama-sama di kelas. Semua wajah terlihat senang dan bangga. Keriuhan memenuhi kelas kami, hal yang membebani pikiran kami selama berbulan-bulan ini akhirnya selesai juga. Kelas yang berantakan, penuh dengan kostum, properti, dan perlengkapan lain, perlahan-lahan kami bersihkan bersama. Tidak terasa semuanya sudah selesai. Kelasnya kosong, tidak ada lagi properti goa, pojok kostum, kasur angin dan bantal yang sering kami tiduri, pilox, lem tembak, kain putih, dll.

Terima kasih F1 yang sudah membuat saya merasakan apa arti solidaritas dan kebersamaan. Guru-guru dan sekolah yang sudah menyediakan kegiatan dan fasilitas, membuat saya dapat merasakan pengalaman berharga ini. Orang tua dan keluarga yang selalu mendukung saya selama prosesnya. Pengalaman ini akan selalu tersimpan di hati saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *